Kerajaan Sriwijaya : Sejarah, Silsilah, Lokasi, Ekonomi, Prasasti

7 min read

kerajaan-sriwijaya

Ada banyak kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Tapi, apa ada yang tahu mengenai silsilah dan informasi tentang Kerajaan Sriwijaya? Jika belum, tentu saja Anda wajib tahu, apalagi jika Anda berasal dari tanah sumatera. Yuk simak penjelasan berikut ini.

Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan terbesar yang ada di Indonesia. Kerajaan Sriwijaya terletak di tanah Melayu, Pulau Sumatera. Hal yang sangat menarik, kerajaan ini mampu membawa pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan Nuantara.

Mengenai asal usul namanya, Sriwijaya berasal diambil dari Bahasa Sansekerta. “Sri” memiliki arti cahaya dan “Wiya” berarti kemenangan.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya meliputi:

  • Kamboja
  • Semananjung Malaya
  • Thailand
  • Pulau Jawa.

Dengan daerah kekuasaan yang luas, akhirnya Sriwijaya mengalami kemajuan yang sangat pesat, hingga terkenal sampai mancanegara.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Mengenai sejarah berdirinya, banyak sekali sumber yang menginformasikan. Beberapa berita asing dan prasasti digunakan sebagai acuan mengenai kapan berdirinya kerajaan maritim yang terkenal ini. Berikut ini beberapa sumber, baik dari dalam negeri, serta luar negeri yang kerap digunakan sebagai acuan berdirinya Sriwijaya.

1. Sumber dari Cina

Sumber-dari-Cina

Dari sumber Cina, disebutkan kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-5 masehi, tepatnya pada tahun 671. Sumber tersebut didapatkan dari catatan yang ditulis oleh I-sting, yaitu seorang peziarah agama Budha. Melalui catatanya tersebut, didapatkan data jika pada waktu itu ada lebih dari 1000 pendeta Budha yang ada di Sriwijaya.

Bahkan, aturan mengenai upacara para pendeta Budha yang dilakukan juga memiliki kesamaan dengan upacara agama Budha yang ada di India. Kunjungan I-tsing berlangsung selama 6 bulan. Dirinya berada di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta. Setelah selesai, ia meneruskan perjalanan ke Nalanda, India.

Akan tetapi I-tsing tidak menetap di India, Ssetelah merasa cukup belajar, pada tahun 685 ia kembali ke Sriwijaya serta menetap beberapa tahun. Di kerajaan, ia menerjamahkan berbagai teks Budha dari bahasa Sansekerta menjadi bahasa Cina. Selain itu, catatan Cina juga menyebutkan mengenai utusan yang selalu rutin datang ke Cina.

2. Sumber dari Arab

Sumber-dari-Arab

Sumber dari Arab lebih akrab menyebut Sriwijaya dengan istillah Sribuza, Zabaq, atau Sabay. Sumber ini didapatkan dari seorang sejarawan Arab Klasik bernama Mas’udi. Melalui catatan sejarah klasik tersebut, Mas’udi menggambarkan detail terkait dengan Sriwijaya. Tulisan yang ditulis pada tahun 955 M tersebut menyebutkan jika kerajaan satu ini adalah kerayaan yang besar.

Bahkan disebutkan juga bahwa hasil buminya sangat melimpah, seperti kapur barus, cengkeh, kayu gaharu, pala, kayu cendana, gambir, kardamungu hingga berbagai hasil bumi lainnya. Selain itu keberadaan perkampungan Arab juga semakin mendukung bukti mengenai keberadaan kerajan satu ini.

3. Sumber dari India

Sumber-dari-India

Sumber yang kedua ini mengungkapkan jika kerajaan yang berada di Sumatera Selatan ini memiliki hubungan erat dengan para raja yang berasal dari Kerajaan India. Kerajaan tersebut diantaranya Kerajaan Nalanda serta Kerajaan Chola. Dari Kerajaan Nalanda ini disebutkan disebutkan jika Raja Sriwijaya pernah mendirikan sebuah prasasti yang diberi nama Prasasti Nalanda.

Melalui prasasti tersebut, terdapat pernyataan jika Raja Nalanda yaitu Raja Dewa Paladewa bersedia untuk membebaskan pajak untuk 5 desa. Kemudian sebagai gantinya, desa tersebut diberikan kewajiban untuk membiayai semua pelajar dari Kerajaan Sriwijaya yang sedang belajar di Kerajaan Nalanda.

Bukan hanya memiliki keterikatan dengan Kerajaan Nalanda saja, lebih dari itu, kerajaan satu ini juga memiliki keterikatan dengan Kerajaan Chola yang berada di India Selatan. Namun hubungan tersebut menjadi kurang baik ketika Raja Rajendra Chola memiliki keinginan untuk menguasai Selat Malaka.

4. Sumber lain

Sumber-lain

Sumber lain ini merujuk pada pendapat Beal pada tahun 1886. Menurut pendapatnya, Shih-li-fo-shih adalah sebuah daerah yang berada di dekat Sungai Musi. Selain itu, ada juga sumber lain dari Kern melalui tulisannya yang diterbitkan tahun 1913M. Dalam tulisannya, Kern menyebutkan jika Sriwijaya yang ditulis di prasasti merupakan nama dari seorang raja.

Lokasi Kerajaan Sriwijaya

Lokasi-Kerajaan-Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya bercorak Budha ini adalah salat satu kerajaan yang membawa Nusantara terkenal hingga ke dunia International. Bukan hanya dikenal dalam kalangan nasional saja. Akan tetapi hampir semua bangsa yang di luar Indonesia juga mengenal kerajaan satu ini.

Hal tersebut dikarenakan letak geografis Sriwijaya yang memang  berdekatan dengan jalur perdagangan antara bengsa-bangsa yang berada di Selat Malaka. Pada waktu itu Selat Malaka merupakan selat yang menghubungan berbagai jalur perdagangan dengan para pedagang dari Cina dan India hingga Romawi.

Dalam sebuah karangan yang dituliskan oleh George Coedes yang diberik judul Le Royaume de Crivijaya yang ditulis saat tahun 1918M. Dalam catatanya tersebut disebutkan jika Sriwijaya merupakan nama dari sebuah kerajaan yang berada di Sumatera Selatan. Lebih luas lagi Coedes juga menetapkan Palembang sebagai ibu kota dari Kerajaan Sriwijaya.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Masa-Kejayaan-Kerajaan-Sriwijaya

Sebagai sebuah kerajaan yang besar dengan daerah kekuasaan yang luas sudah pasti memiliki masa kejayaan serta kemunduruan yang akan selalu diingat oleh semua masyarakat Indonesia. Terkait dengan masa kejayaan Sriwijaya beberapa sumber menyebutkan abad ke-9 dan ke-10. Pada masa itu Sriwijaya mampu menguasai perdagangan Maritim.

Bukan hanya perdagangan maritimnya saja. Lebih dari itu Sriwijaya juga mampu menguasai beberapa Negara tetangga sepeti kerajaan yang ada di Thailand, Philipina, Vietnam, Kamboja dan hampir semua Sumatere serta Jawa juga berhasil dikuasai.

Ketika berada pada masa kejayaannya, Sriwijaya juga menjadi salah satu pengendali rute dari perdagangan lokal. Dengan itu maka semua kapal yang melewati daerah Sriwijaya wajib membayar pajak serta bea cukai. Bahkan mereka berhasil juga mengumpulkan kekayaan dari jasa pelabuhan serta gudang perdagangan.

Akan tetapi sangat disayangkan sekali, sekitar tahun 1007 serta 1023 Masehi Sriwijaya mengalami kemundurun. Penyebabkemunduran tersebut yaitu serangan dari Kerajaan Cholamandala yang menyerang Sriwijaya dan merebut bandar-bandar kota milik Sriwijaya.

Penyerangan terjadi karena kedua kerajaan tersebut saling bersaing dalam bidang perdagangan dan pelayaran. Di beberapa sumber disebutkan jika Kerajaan Cholamandala tersebut sebenarnya tidak memiliki niat untuk menjajah, namun hanya meruntuhkan armada kerajaan saja. Hingga akhirnya berakibat pada melemahnya ekonomi dan juga semakin berkurangnya pedagang.

Melemahnya kekuatan ekonomi tersebut akhirnya membuat para prajurit kerajaan berpindah haluan. Dan pada abad ke-13 berakhirlah masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Silsilah Kerajaan Sriwijaya

Silsilah-Kerajaan-Sriwijaya

Raja yang memimpin Sriwijaya telah berhasil menduduki Jawa serta Melayu yaitu Dapunta Hyang atau yang dikenal dengan Jayanasa. Jayanasa memipin Sriwijaya di tahun 671. Kemudian di tahun 728 sampai 742, kekuasaan digantikan oleh Rudra Wikrama. Di bawah Rudra Wikrama Sriwijaya melakukan utusan hingga ke Tiongkok.

Kemudian di tahun 702, kepemimpinan berpindah di tangan Sri Indrawarman kemudian dilanjutkan Sri Maharaja di tahun 775. Di bawah kepemimpinannya, Sriwijaya berhasil menaklukkan Tahiland serta Kamboja. Kemudian di tahun 851 kepemimpinan digantikan oleh Maharaja yang akhirnya dilanjutkan Balaputra Dewa pada tahun 860 masehi.

Kepemimpinan selanjutnya dilanjutkan oleh  Sri Udayadityawarman dimulai dari tahun 960 Masehi dan pada tahun 962 kepemimpinan dilanjutkan oleh Sri Udayaditya. Kemudian di tahun 1044 Masehi kepemimpinan dilanjutkan oleh Sri Sudamaniwarmadewa serta Marajiyatunggawarman.

Hingga akhirnya kepemimpinan yang terakhir dipimpin oleh Sri Sanggaramawijayatunggawarman. Di bawah kepemimpinannya, Sriwijaya jatuh ke tangan India.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sriwijaya

Kehidupan-Ekonomi-Kerajaan-Sriwijaya

Apabila diamati dari letak wilayahnya, Sriwijaya merupakan kerajaan yang menempati wilayah sangat strategis, lokasinya berada diantara jalur perdagangan India dan Cina.

Selain itu, letaknya yang berdekatan dengan Selat Malaka juga menjadi lokasi yang sangat menguntungkan. Kehidupan sosial yang baik juga semakin membuat kerajaan memiliki banyak hubungan dengan banyak saudagar.

Sriwijaya mengandalkan hasil bumi sebagai modal utama untuk semua masyarakat yang terjun dalam berbagai kegiatan pelayaran serta perdagangan. Beberapa hasil bumi tersebut diantaranya cengkeh, lada, kapulaga, pala, kayu gaharu, pinang, kapur barus, pinang, timah, gading, emas, rempah-rempah, kayu hitam hingga penyu.

Hasil bumi tersebut kemudian dijual serta dibarter dengan sutera, kain katun serta porselen melalui relasi dagang yang dijalin dari Cina, Arab serta Madagaskar. Selain itu kekayaan Sriwijaya juga didapatkan dari:

  • Bea masuk serta bea keluar dari bandar yang ada di Sriwijaya
  • Bea cukai dari semua kapal yang melintas di Asia Tenggara
  • Upeti untuk persembahan raja-raja
  • Hasil perdagangan

Berhasilnya Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur perhubungan perdagangan serta pelayaran yang ada di Asia Tenggara menjadi hal yang sangat penting bagi pertumbuhan perekonomian kerajaan. Sebab  akan banyak kapal asing yang berlabuh untuk menambah bekal makan, air minum, istirahat serta melakukan berbagai aktivitas perdagangan lain.

Melihat kegiatan yang semakin ramai dan bertambah akhirnya Sriwijaya membangun ibu kota baru yang ada di Semenanjung Malaka, yaitu Ligor. Hal itu bisa dibuktikan dari Prasasti Ligor. Adanya ibukota baru tersebut, bukan berarti ibu kota yang ada di Sumatera Selatan ditinggalkan. Akan tetapi, hal itu dilakukan supaya bisa memberikan pengawasan yang lebih dekat.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya

Penyebab-Runtuhnya-Kerajaan-Sriwijaya

Penyebab kemunduruan Sriwijaya sejak abab ke-10 ini dilatarbelakangi beberapa faktor seperti:

  1. Adanya perubahan alam di sekitar Palembang.
  2. Sungai Musi, Ogan Komering serta beberapa sungai lain mengendapkan lumpur di area sekitar Palembang. Hal tersebut menyebabkan posisinya semakin menjauh dari laut serta perahu lebih sulit untuk merapat.
  3. Lokasi Palembang yang semakin jauh dari laut membuat daerah tersebut kurang strategis jika digunakan untuk jalur perdagangan nasional ataupun international. Selain itu Selat Berhala yang menghubungkan Kepulauan Singkep dan juga Pulau Bangka semakin menyingkirkan perdagangan international.
  4. Bidang politik juga memiliki pengaruh yang cukup besar. Di dalam bidang politik, Sriwijaya hanya mengandalkan angkatan laut saja. Ketika kekuasaan di Jawa Timur semakin berkembang di masa kajayaan Airlangga, maka Sriwijaya akhirnya mengakui jika Jawa Timur menjadi pemegang Indonesia bagian Timur.
  5. Kerajaan mendapatkan serangan militer. Teguh Drahmawangsa melakukan serangkan pertama terhadap Sriwijaya. Serangkan pertama tersebut dilakukan pada tahun 992. Akibatnya utusan yang dirimkan ke Cina tidak berani lagi untuk kembali.

Tidak berhenti sampai disitu saja, masih ada serangan kedua yang dilakukan oleh Colamanda terhadap Semenanjung Malaya yang terjadi pada tahun 1017. Kemudian yang terakhir serangan atas Sriwijaya sendiri yang terjadi di tahun 1023 hingga 1030.  Dalam serangan tersebut, menyebabkan Raja Sriwijaya ditawan serta dibawa ke India.

Selain itu saat Kertanegara bertahya di Singasari Sriwijaya juga melakukan penyerangan terhadap Sriwijaya. Akan tetapi serangan tersebut hanya sebatas usaha untuk mengurung Sriwijaya atas pendudukannya di tanah Melayu. Akhir dari masa Sriwijaya adalah pendudukan Majapahit dalam usahanya mempersatukan nusantara pada tahun 1377. 

Peninggalan Sejarah Kerajaan Sriwijaya

1. Prasasti Kota Kapur

Prasasti-Kota-Kapur

Prasasti Kerajaan Sriwijaya salah satunya adalah Prasasti Kota Kapur. Prasasti ini ditemukan di wilayah Barat Pulau Bangka, Provinsi Riau. Prasasti ini ditulis dengan huruf Pallawa berbahasa Melayu Kuno. Prasasti Kota Kapur ditemukan pada bulan Desember kira-kira tahun 1892.

J.K. van der Muelen yang berhasil menemukan prasasti ini. Dalam prasati tersebut berisi kutukan mengenai siapa saja yang berani membantah pemerintah dan juga kekuasaan kerajaan maka bisa terkena kutukan.

2. Prasati Kedukan Bukit

Prasati-Kedukan-Bukit

Batu tulis yang ditemukan di Kampung Kedukan Bukit ini ditemukan oleh seorang bernama Batenburg. Lokasi tempat penemuannya berada di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir. Prasati ini ditemukan tanggal 29 November 1920 Masehi. Mengenai ukurannya, Kedukan Bukit berukuran 45 X 80 centimeter dan juga ditulis dengan huruf Pallawa serta Bahasa Melayu.

Dalam prasasti ini tertulis mengenai utusan kerajaan yang bernama Dapunta Hyang yang mana pada saat itu melakukan perjalanan suci yang dikenal dengan sidhayarta. Perjalanan tersebut dilakukan dengan menggunakan perahu serta diiringi pasukan sebanyak 2000. Alhasil perjalanan tersebut berhasil.

3. Prasasti Telaga Biru

Prasasti-Telaga-Biru

Prasati Telaga Biru berisi mengenai pertanyaan seputar kutukan. Prasasti ini ditemukan di daerah dekat Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Prasati ini menjadi lambang mengenai kutukan untuk siapa saja yang berbuat jahat di daerah Sriwijaya. Sama halnya dengan Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti ini juga disimpan di Museum Nasional Indonesia.

4. Prasasti Talang Tuwo

Prasasti-Talang-Tuwo

Louis Constant Wastenek yang merupakan Residen Palembang berhasil menemukan prasasti ini di tanggal 17 November 1920. Mengenai tepatnya, prasasti ini tepat ditemukan di Bukit Seguntang. Sebuah daerah sekitar Sungai Musi. Prasasti ini menjadi lambang agama yang berkembang pada waktu itu.

Praasti Talang Tuwo ini penuh dengan mauatan doa-doa dedikasi serta menunjukkan perkembangan agama Buddha yang ada di Sriwijaya. Mengenai aliran agamanya, pada waktu itu yang sedang berkembang aliran Mahayana.

5. Prasasti Ligor

Prasasti-Ligor

Sumber sejarah berikutnya ini berhasil ditemukan di Thailand. Prasasti ini berbentuk dua sisi. Ada sisi A dan sisi B. Bagian sisi A menggambarkan mengenai gagahnya raja Sriwijaya. Di dalam prasasti tersebut dijelaskan jika raja kerajaan Sriwijaya adalah raja dari semua raja yang ikut andil dalam pendirian Trisamaya Caiya bagi Kajara.

Kemudian pada bagian sisi B berisi rangkuman terkait dengan pemberian gelar Visni Sesawarimadawimatha. Hingga akhirnya gelar tersebut didedikasikan kepada Sri Maharaja, yaitu raja dari Sailendravamasa.

6. Candi Muara Takus

Candi-Muara-Takus

Candi Muara Takus merupakan peninggalan kerajaan yang sangat terkenal. Candi ini berada di daerah Muara Takus, Kecamatan 13 Koto, Kampar, Riau. Apabila diamati lebih jauh lagi desain dan juga bentuknya mirip dengan candi pada agama Budha.

Muara Takus ini merupakan komplek candi yang di dalamnya terdapat beberapa jenis bangunan candi, diantaranya Candi Sulung Bungsu, Palangka dan Mahligai Stupa. Beberapa arkeolog menyebutkan jika pembangunan candi kurang lebih berlangsung pada abad ke-8 masehi.

7. Candi Biaro Bahal

Candi-Biaro-Bahal

Peninggalan Sriwijaya berikutnya ini termasuk dalam kompleks Candi Budha yang beraliran Vajrayana. Kompleknya berada di desa Bahal, Kec. Padang Bolak, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Apabila kita amati lebih detail lagi, peninggalan satu ini memiliki kemiripan dengan bangunan Candi Jubang yang berada di Probolinggo, Jawa Timur.

Beberapa arkeolog memperkirakan jika candi ini kira-kira dibangun pada abad ke-11 Masehi.

Bagaimana, cukup menarik bukan ulasan mengenai Kerajaan Sriwijaya? Semoga uraian ini bisa menambah pengetahuan sejarah Anda semua. Jangan lupakan sejarah, apalagi sejarah, jangan hanya tahu mengenai ‘Sriwijaya’ tapi Anda tidak tahu sejarahnya, hehehee..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *