Sejarah Bahasa Indonesia : Hubungan dengan Melayu, Perkembangannya

7 min read

sejarah-bahasa-indonesia

Sejarah Bahasa Indonesia –  Taukah kamu bahwa bahasa menjadi salah satu bagian yang sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara loh. Terutama bahasa akan menjadi alat komunikasi antara antar masyarakat yang mendiami suatu negara. Indonesia sendiri juga memiliki sejarah bahasa yang cukup unik dan menarik

Untuk menjawab pertanyaan sekolah mengenai penjelasan sejarah bahasa Indonesia!’ Tentunya Anda harus memahami dengan baik. Karena ada banyak peristiwa penting sepanjang sejarah penggunaannya, lho!

Sejarah Bahasa Indonesia (Asal Mula)

Sejarah-Bahasa-Indonesia-Asal-Mula

Untuk bisa menjawab pertanyaan bagaimana sejarah bahasa Indonesia, yang pertama perlu Anda lihat dan pelajari adalah bagaimana bahasa Indonesia itu bisa ada atau asal muasalnya.

Perlu Anda ketahui, bahasa Indonesia adalah salah satu variasi lain dari bahasa Melayu.

Bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa Austronesia yang berasal dari cabang berbagai bahasa yaitu Sunda-Sulawesi. Bahasa biasanya digunakan sebagai Lingua Franca untuk warga pada masa lalu. Penggunaannya pun juga sudah dimulai sejak awal pemberlakukan tanggal modern.

Aksara atau teks pertama kali dalam bahasa Melayu ditemukan di sekitar pesisir Pulau Sumatera bagian tenggara. Posisi yang terletak di Pulau Sumatera telah membuktikan bahwa bahasa Indonesia sudah menyebar ke berbagai lokasi di kawasan Nusantara ini.

Banyak cerita sejarah bahasa Indonesia dimana diduga bahasa mulai menyebar karena adanya penggunaan oleh Kerajaan Sriwijaya yang pada masa lalu. Karena berdasarkan buku sejarah dan ebook sejarah , Sriwijaya menguasai kawasan jalur perdagangan laut.

Hubungan sejarah bahasa Indonesia pada masa kerajaan memang sangat erat sekali kaitannya dengan eksisnya bahasa Indonesia saat ini. Mengingat saat itu Nusantara memiliki kerajaan-kerajaan yang sangat hebat dan kuat. Istilah Melayu datang dari nama suatu wilayah yaitu Malaya.

Lebih tepatnya lagi di kawasan Kerajaan Malaya yang saat ini menjadi Batang Hari, Jambi. Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia itu terus mengalami perkembangan penggunaan.

Ketika dalam penguasaan Belanda, rakyat Nusantara saat ini sudah menggunakan bahasa Melayu dalam kegiatan sehari-hari. Dari latar belakang tersebut, pemerintah Belanda menganggap bahasa tersebut sangat penting untuk melancarkan aktivitas administrasi.

Hal ini membuat bahasa Melayu terus dikembangkan dan sampai keluar beberapa karya sastra dengan bahasa Melayu. Selain itu Belanda juga terus mempromosikan bahasa itu sebagai materi di sekolah.

Melalui upaya dari pemerintah Belanda itulah cikal bakal bahasa Indonesia lahir. Secara perlahan dan bertahap, cikal bakal bahasa Indonesia mulai memisahkan diri dari bentuk awal yaitu bahasa Melayu Riau-Johor. Ini adalah sejarah bahasa Indonesia yang sangat penting untuk diketahui.

Penggunaan bahasa Melayu di Nusantara mulai mengalami perpecahan adopsi. Nusantara saat itu Hindia Belanda, memilih menggunakan ejaan Van Ophuijsen pada 1901.

Sementara itu Persekutuan Tanah Melayu (cikal bakal bagian dari negara Malaysia), pada 1904 memutuskan untuk menggunakan ejaan Wilkinson.

Berbagai langkah yang diambil oleh pemerintah Belanda seperti penerbitan buku yang secara tidak langsung turut menyebarkan penggunaan bahasa Melayu di semua lapisan masyarakat pada masa itu.

Sementara itu, penggunaan bahasa Indonesia pertama kali dimulai ketika Jahja Datoek Kajo menyampaikan suatu pidato dengan bahasa Indonesia pada saat sidang Volksraad 16 Juni 1927 lalu.

Kecocokan dengan Bahasa Melayu

Kecocokan-dengan-Bahasa-Melayu

Bahasa Indonesia selalu tidak bisa dipisahkan dengan bahasa Melayu. Karena bahasa Indonesia adalah pengembangan lebih lanjut dari bahasa Melayu.

Sejak zaman sebelum kemerdekaan atau sejak zaman kerajaan, bahasa Melayu menjadi bahasa yang menyambungkan kerajaan satu dengan kerajaan lain dalam aktivitas perdagangan.

Anda pasti juga sudah tahu bahwa ada banyak kecocokan dalam beberapa ejaan antara bahasa Melayu saat ini dengan bahasa Indonesia. Tidak heran jika kawasan Sumatera walaupun memakai bahasa Indonesia, tapi masih ada kesan Melayu.

Karena memang di Palembang dan Jambi pernah ditemukan prasasti berbahasa Melayu. Sejarah bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu tidak lepas dari fungsi bahasa Melayu yang menjadi Lingua Franca untuk kawasan Nusantara pada masa lalu.

Lingua Franca adalah bahasa yang menjadi sarana komunikasi antar orang dimana setiap orang pada dasarnya memiliki bahasa daerah sendiri.

Pada akhirnya untuk menjadi perantara komunikasi, mereka menggunakan bahasa Melayu. Bahkan banyak yang menilai bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Modern. Namun penamaan itu banyak yang menolak, karena tidak sesuai visi penyatuan bangsa Indonesia.

Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Nasional

Bahasa-Indonesia-Menjadi-Bahasa -Nasional

Perkembangan penggunaan bahasa Melayu di Nusantara sangat pesat sekali. Hampir setiap orang pada masa itu menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi selain dengan bahasa daerah masing-masing.

Sebenarnya ada empat hal yang menjadi penyebab bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional Indonesia. Penyebabnya antara lain bahasa Melayu sejak masa kerajaan telah menjadi bahasa pengantar di kawasan Nusantara.

Selain itu bahasa Melayu dinilai memiliki sistem tata bahasa yang lebih sederhana. Sehingga akan lebih mudah untuk dipahami dan untuk dipelajari oleh warga Indonesia setelah kemerdekaan. Suku bangsa yang ada di Indonesia juga telah menerima bahasa Melayu sebagai bahasa dasar untuk negara Indonesia.

Alasan lain yang cukup unik adalah arena bahasa Melayu mempunyai kemampuan untuk menjadi bahasa kebudayaan. Sementara itu dari sisi sejarah, secara sosiologis  bahasa Indonesia menjadi bahasa Nasional sejak diikrarkannya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 lalu sebelum kemerdekaan.

Para pemuda seluruh Nusantara pada Kongres Pemuda II menyatakan diri bahwa mereka bersumpah bersatu atas nama Tanah Air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia dan berbahasa satu bahasa Indonesia.

Kongres Pemuda II dihadiri oleh perwakilan pemuda dari seluruh Nusantara. Pada saat Kongres Pemuda II tersebut sebenarnya mayoritas bahasa yang digunakan bukan bahasa Melayu tapi bahasa Jawa.

Namun para pembuat konsep soal persatuan, tidak mengutamakan mayoritas tapi lebih mengutamakan menggabungkan keanekaragaman yang ada.

Dari konsep sekilas itu maka diambil keputusan bahwa bahasa persatuan dipilih dari bahasa yang paling mudah dikenal oleh banyak orang yaitu bahasa Melayu. Karena memang sejak zaman kerajaan, bahasa Melayu telah meluas ke seluruh pelosok Nusantara.

Kemudian pengesahan secara hukum baru dilakukan dengan disahkannya UUD 1945 pada 18 Agustus lalu. Sehingga mulai saat itulah bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi Nasional Republik Indonesia.

Perkembangan Bahasa Indonesia Setelah Kemerdekaan

Perkembangan-Bahasa-Indonesia-Setelah-Kemerdekaan

Sesuai dengan penjelasan yang Anda terima sebelumnya bahwa perkembangan sejarah bahasa Indonesia pasca kemerdekaan terjadi mulai 18 Agustus 1945. Setelah hari itu, bahasa Indonesia terus mengalami dinamika perkembangan.

Pada 19 Maret 1947 menjadi awal dimana pembakuan ejaan bahasa Indonesia pasca kemerdekaan yaitu ejaan Soewandi. Kemudian pada 28 Oktober 1954 yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, dilangsungkan Kongres Bahasa Indonesia II berlokasi di Medan.

Hal tersebut menjadi langkah tegas bangsa Indonesia untuk secara berkelanjutan menyempurnakan bahasa Indonesia.

Kemudian pada masa Orde Baru dibawah Presiden Soeharto, disahkan perubahan ejaan dari ejaan Soewandi menjadi ejaan EYD dengan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972. 50 tahun setelah Sumpah Pemuda, dilangsungkan kembali Kongres Bahasa Indonesia pada 28 Oktober 1978.

Pada acara tersebut menampilkan penjelasan bagaimana bahasa Indonesia mengalami kemajuan, tumbuh dan berkembang. Selain itu juga Kongres Bahasa Indonesia III terus memantapkan bagaimana kedudukan dan juga fungsi dari bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia dilangsungkan kembali pada 21 November 1983 dengan nama Kongres Bahasa Indonesia IV. Pertemuan itu menghasilkan tekad bahwa harus ada peningkatan pembinaan dan pengembangan terhadap bahasa Indonesia. Itu semua sesuai dengan amanat GBHN.

Kongres Bahasa Indonesia V berlangsung pada 28 Oktober 1988 dengan inti pertemuan menghasilkan karya yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI dan Tata Baku Bahasa Indonesia.

Kongres itu juga dihadiri oleh negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Australia, Jerman dan Belanda. Kongres Bahasa Indonesia VI dilangsungkan di Jakarta 28 Oktober 1993 dengan hasil perubahan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa menjadi Lembaga Bahasa Indonesia.

Kongres Bahasa Indonesia berlangsung sampai ke VII pada 26 Oktober 1998, Kongres Bahasa Indonesia VIII pada 14 Oktober 2003, Kongres Bahasa Indonesia IX pada 28 Oktober 2008.

Kongres Bahasa Indonesia X pada 28 Oktober 2013 dan Kongres Bahasa Indonesia XI pada 28 Oktober 2018.

Target Kongres ke-11 itu adalah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional pada tahun 2945 mendatang. Kemudian pada 2015 melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, maka aturan baku ejaan EYD diganti dengan aturan baku ejaan PUEBI.

Perkembangan Bahasa Melayu

Perkembangan-Bahasa-Melayu

Sejak masa kerajaan, berbagai kerajaan di Nusantara menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi. Langkah perluasan kerajaan dan perdagangan antara kerajaan yang meliputi seluruh wilayah Nusantara menyebabkan bahasa Melayu menjadi berkembang dengan cepat.

Kemudian ketika diucapkan oleh warga lokal dari daerah tertentu, maka mengalami penyesuaian sesuai dengan cara pengucapan warga lokal itu sendiri. Bahasa Melayu ini kemudian menjadi bahasa Indonesia yang memiliki berbagai dialek sesuai daerah dan ciri khasnya masing-masing.

Anda pasti juga pernah mengamati bahwa bahasa Melayu yang saat ini menjadi bahasa Indonesia telah bercampur dengan bahasa lain seperti Persia, Arab, Sansekerta bahkan bahasa Eropa.

Secara garis sejarah, ahli bahasa membagi bahasa Melayu dalam tiga tahapan yaitu Melayu Kuno, Melayu Klasik dan Melayu Modern.

Melayu Kuno adalah bahas yang digunakan pada masa kerajaan di kawasan Nusantara dan masih mendapat pengaruh dari bahas Sansekerta. Kemudian Melayu Klasik yang lebih disebabkan meluasnya ajaran Islam di Nusantara pada masa itu.

Lalu yang terakhir Melayu Modern dimana terjadi perubahan karena masuknya bangsa asing ke Nusantara dan membawa pengaruh bagi bahasa Melayu Klasik. Selanjutnya Melayu Modern terus mengalami perkembangan dengan adanya bahasa-bahasa Eropa di dalamnya.

Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia

Penyempurnaan-Ejaan-Bahasa-Indonesia

Perjalanan sejarah bahasa Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan tidak berhenti begitu saja sejak 18 Agustus 1946. Setelah kemerdekaan dengan kurun waktu puluhan tahun, bahasa Indonesia mengalami banyak sekali perkembangan.

Anda bisa melihat bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka dengan bahasa lain, sehingga sering menyerap bahasa-bahasa asing yang kemudian menjadi bahasa Indonesia atau disebut dengan kata serapan.

Selain itu ejaan bahasa Indonesia juga mengalami banyak perkembangan. Berikut ini 4 perkembangannya:

1. Van Ophuijsen

Saat masa-masa kolonial Belanda, bahasa Melayu digunakan sebagai sarana komunikasi utama. Apalagi banyak rakyat Nusantara yang lebih mudah memahami bahasa Melayu dibandingkan bahasa dari daerah-daerah lainnya.

Hal ini membuat pemerintah Belanda menjadi lebih mudah dalam menjalin komunikasi dengan rakyat Nusantara pada masa itu. Melihat pentingnya penggunaan bahasa Melayu, pemerintah kemudian membuat ejaan baku yang dilakukan oleh Prof. Charles van Ophuijsen.

Selama proses pembakuan ejaan itu, Ophuijen dibantu bersama dengan Engku Nawawi atau Sutan Makmur dan bersama Moh Taib Sultan Ibrahim. Penggunaan ejaan Melayu ini memanfaatkan huruf latin agar Belanda lebih mudah memahaminya.

Beberapa kata menggunakan ejaan yang sama dengan Belanda seperti yang menjadi jang dan dulu menjadi doeloe. Pada artikel sejarah bahasa Indonesia, makalah, ppt, pdf, dan doc banyak ditemukan ejaan-ejaan yang masih menggunakan ejaan Van Ophuijsen.

Karena memang yang menghendaki pembakuan ejaan ini adalah pemerintah Belanda, sehingga harus disesuaikan dengan cara berbicara orang Belanda.

2. Ejaan Soewandi

Perkembangan ejaan bahasa Indonesia selanjutnya adalah ejaan Soewandi atau sering disebut juga dengan ejaan Republik. Soewandi pada masa setelah kemerdekaan Republik Indonesia pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan.

Beliau menetapkan ejaan baku yang bertujuan untuk menyempurnakan ejaan sebelum kemerdekaan Indonesia. Jika Anda amati, maka akan terlihat jelas bagaimana perbedaan antara ejaan Soewandi dengan ejaan Van Ophuijsen.

Perbedaan paling signifikan terlihat pada contoh huruf yang semula oe menjadi u dari kata doeloe menjadi dulu.

Selain itu ada juga ejaan yang kurang diketahui namun ternyata itu adalah ejaan Soewandi yaitu kata berulang seperti motor-motor menjadi motor2 dengan penambahan angka 2. Kemudian, untuk kata awal di tetap ditulis serangkai dengan kata sesudahnya.

3. EYD

Perkembangan zaman dari zaman setelah kemerdekaan menuju ke zaman yang lebih modern membuat ejaan bahasa Indonesia juga mengalami perkembangan. Saat zaman Presiden Soeharto ada kebijakan tentang ejaan yang diatur di dalam Keputusan Presiden No. 57 Tahun 1972.

Sebelum adanya Keputusan Presiden, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia saat itu yaitu Mashuri dan Menteri Pelajar Malaysia Tun Hussein Onn melangsungkan pertemuan. Hasilnya adalah pernyataan bersama tentang asas-asas yang disepakati ahli dari kedua negara.

Tujuan dari Keputusan Presiden itu adalah untuk bisa membuat ejaan yang lebih sederhana dan juga lebih disempurnakan dibandingkan ejaan yang sebelumnya. Aturan ejaan ini disebut dengan EYD atau Ejaan yang Disempurnakan.

Ada beberapa perubahan pada aturan baku ejaan bahasa Indonesia ini, seperti penggunaan huruf kapital, huruf miring, tanda baca, penggunaan kata, akronim dan juga singkatan. Selain itu juga mengatur mengenai penulisan lambang bilangan, angka dan juga unsur serapan.

4. PUEBI

Kemudian pembaruan akhir dari aturan baku ejaan bahasa Indonesia adalah PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Mulai berlakunya ejaan baru itu ditandai dengan adanya aturan yang dikeluarkan pemerintah melalui Peraturan Kemendikbud Nomor 50 Tahun 2015.

Ada pedoman-pedoman baru di dalam aturan Kementerian tersebut. Aturan itu seperti penambahan berupa huruf vokal diftong dan kata julukan yang juga menggunakan huruf kapital.

Selain itu juga ada aturan penggunaan cetak tebal, penggunaan imbuhan pun, penggunaan bilangan, titik dua koma (;), tanda hubung (-), tanpa kurung dan tanpa elipsis.

Ada beberapa alasan yang mendasari perubahan aturan baku ejaan bahasa Indonesia diantaranya kemajuan berbagai disiplin ilmu dan pemantapan fungsi bahasa Indonesia.

Sejarah bahasa Indonesia sangat panjang sekali, dimulai dari masa kerajaan sampai masa modern seperti saat ini. Pengetahuan perkembangan sejarah ini perlu diketahui warga Indonesia terutama generasi muda untukmenanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *