Sejarah Islam Dunia, Indonesia, Eropa, Amerika, China, dll (LENGKAP)

15 min read

sejarah-islam

Sejak awal mula kemunculannya hingga saat ini, sejarah Islam banyak mengalami perkembangan yang gemilang. Bukan hanya mengalami perkembangan pada pemikiran para ulama dan tokoh besar saja, tapi juga meluas ke bidang politik dan kesenian.

Sekarang ini, sudah ada ribuan lebih makalah yang memuat persoalan tentang sejarah perkembangan islam yang ada di dunia, baik itu dalam bentuk pdf ataupun doc.

Sejarah Islam Dunia

Sejarah-Islam-Dunia

Sejarah Islam di dunia dibagi ke dalam 5 masa atau periode. Dimulai dengan masa Nabi Muhammad SAW, masa Abu Bakar, masa Umar bin Khatab, masa Utsman bin Affan, dan diikuti oleh masa Ali bin Abi Thalib.

1. Masa Nabi Muhammad SAW

Pada masa Nabi Muhammad SAW, Islam banyak melewati rintangan dan bentuk penganiayaan yang skalanya di luar batas kemanusiaan. Kendati demikian, orang muslim tetap sabar dan istiqamah di jalan-Nya.

Pun demikian dengan Nabi Muhammad SAW yang selalu beristiqamah dalam menyebarkan agama Islam mulai dari periode Makkah hingga periode Madinah.

Selain berperan sebagai Rasulullah yang diutus Sang Khalik, Nabi Muhammad SAW juga memiliki peran sebagai pemimpin negara yang rapi sebagai administrator, pandai dalam berpolitik, serta memiliki kecakapan yang cukup sebagai panglima perang.

Dengan peran dan kemampuan tersebut, tidak mengherankan jika kemudian Beliau mampu menaklukkan seluruh Jazirah Arabdalam waktu yang relatif cepat.

Rasulullah menerapkan 3 tahapan dakwah yang berbeda dalam menyebarkan ajaran Islam. Dakwah secara sembunyi-sembunyi menjadi tahapan dakwah yang pertama kali dilakukan Rasulullah.

Di awal periode Nabi Muhammad SAW memperkenalkan Islam, Beliau menampakkannya kepada orang yang terdekat. Seperti keluarga dan sahabat karibnya.

Merekalah yang dalam tarikh Islam disebut sebagai As-Sabiqunal Awwalun atau yang terdahulu dan pertama masuk Islam.

Beberapa orang yang termasuk ke dalam As-Sabiqunal Awwalun tersebut ialah Khadijah binti Khuwailid, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abu Thalib, dan Abu Bakar.

Di tiga tahun pertamanya, dakwah Islam masih dilakukan selama sembunyi-sembunyi dan menargetkan umat secara perorangan.

Tahapan ini terus berlanjut hingga turunnya wahyu yang mengharuskan Rasulullah untuk menampakkan dakwahnya kepada kaumnya dengan menyerang berhala sesembahan mereka dan menjelaskan secara rinci perihal kebatilan.

Tahapan dakwah yang kedua dimulai pada tahun 613 M, atau tepat 3 tahun setelah tahap dakwah sembunyi-sembunyi. Pada tahapan ini, Nabi mulai terang-terangan dalam menyebarkan ajaran Islam.

Saat pertama kali beliau melakukan dakwah terbuka pada masyarakat Makkah, beliau menerima respons yang sangat keras dan juga massif. Penolakan itu terjadi karena ajaran yang disampaikan Nabi bertentangan dengan pola pikir kebudayaan yang berkembang di masyarakat Makkah kala itu.

Malah saking ditentangnya, pimpinan Makkah saat itu, Abu Jahal, menyuarakan pendapatnya yang menyatakan bahwa Nabi adalah orang gila yang berusaha merusak tatanan hidup dari masyarakat Makkah.

Sebagai bentuk penolakan, masyarakat jahiliyyah di Makkah yang didukung oleh campur tangan kekuasaan para pemimpin Quraisy yang menentangnya, Nabi dan banyak pengikutnya mengalami tindakan diskriminasi, disiksa, dan dihina.

Selain itu, beberapa dari mereka juga mengalami tindak penganiayaan, pengucilan, dan bahkan berusaha untuk disingkirkan dari pergaulan yang ada oleh masyarakat Makkah.

Hari demi hari berlalu, tekanan dan penyiksaan yang dilancarkan orang Quraisy semakin nyata ditampakkan. Hingga akhirnya Rasulullah menyarankan kaum muslim untuk hijrah dan melakukan dakwah di luar kawasan Makkah.

Tahapan dakwah yang ketiga adalah dakwah di luar Makkah. Karena kondisi yang semakin mendesak dan banyaknya tekanan dimana-mana, Rasulullah memutuskan untuk berhijrah ke Habasyah.

Tidak hanya berdakwah sendirian, beliau ditemani oleh 12 orang laki-laki beserta 4 wanita yang diketuai oleh Utsman bin Affan.

Dikarenakan penindasan dan siksaan dari kaum Quraisy semakin menjadi-jadi, Nabi memerintahkan para sahabat untuk berhijrah. Di periode hijrah kali ini, ada setidaknya 83 pria dan 18 wanita yang bergabung.

Sementara itu, Nabi memutuskan untuk tetap berdakwah di Makkah. Dengan upaya ini, ajaran Islam dapat dengan cepat menyebar ke penjuru Arab, bukan hanya di Makkah maupun Madinah. Hal tersebut ditandai dengan adanya peristiwa Fathul Makkah.

2. Masa Abu Bakar

Periodisasi sejarah Islam di masa Abu Bakar diawali dengan kemunculan permasalahan perihal siapa tokoh pemimpin yang bisa memimpin umat Muslim setelah kepergian Rasul. Masalah lain yang tidak kalah penting pada masa ini ialah banyaknya masyarakat yang memilih untuk murtad dari Islam.

Tidak sampai di situ saja, banyak umat Muslim yang enggan untuk membayar zakat serta kemunculan orang-orang yang mengaku sebagai Nabi setelah Rasulullah.

Di masa pemerintahannya, Abu bakar berupaya untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri, terutama terhadap tantangan yang dimunculkan oleh orang-orang dari suku bangsa Arab yang tak mau tunduk pada kekuasaan pemerintahan Madinah.

Karena perlawanan bangsa Arab tersebut dirasa dapat membahayakan keselamatan umat, agama, juga pemerintahan, Abu Bakar kemudian memilih jalur perang. Perang tersebut disebut sebagai Perang Riddah atau perang dalam melawan kemurtadan.

Jika ditelusuri lebih lanjut, masa pemerintahan Abu Bakar hanya 2 tahun. Walau begitu, banyak kemajuan yang berhasil diraih. Adapun beberapa kemajuan tersebut ialah sebagai berikut.

a. Perbaikan Sosial (masyarakat)

Abu bakar berhasil mengamankan wilayah Arab dari adanya para penyeleweng seperti orang murtad, muslim yang tidak mau membayar zakar, dan juga nabi-nabi palsu. Keberhasilannya ini digambarkan dengan stabilnya wilayah Islam.

b. Perluasan dan Pengembangan Wilayah Islam

Abu Bakar juga melakukan pengembangan dan perluasan dari wilayah Islam. Tujuan wilayah yang dicapai Abu Bakar ialah daerah di luar Jazirah Arab seperti Irak dan Suriah.

Kedua wilayah tersebut dirasa perlu untuk ditaklukkan, karena selain letaknya yang berbatasan langsung dengan wilayah muslim, untuk memantapkan keamanan muslim di wilayah Islam dari adanya serbuan dua negara adikuasa, yakni Bizantium dan Persia.

c. Pengumpulan Ayat-ayat Al Qur’an

Pada saat memerangi nabi-nabi palsu, banyak hafiz yang gugur. Kondisi tersebut dirasa sangat mengkhawatirkan karena Al-Qur’an mungkin bisa saja hilang setelah para penghafalnya meninggal.

Ayat-ayat Al-Qur’an juga banyak dibiarkan berserakan tak berarti. Kebanyakan dari ayat tersebut dituliskan pada media yang mudah rusak seperti daun, tulang, kulit kayu, atau media rapuh lainnya.

Karena kedua alasan tersebut, Abu bakar dan para sahabat berinisiatif untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an.

d. Meningkatkan Kesejahteraan Umat

Untuk kemaslahatan umat, Abu Bakar membentuk sebuah lembaga keuangan kas negara bernama Baitul Mal. Selain itu, dibentuk pula lembaga peradilan yang kepemimpinannya diserahkan kepada sahabat Umar bin Khatab.

3. Masa Umar bin Khatab

Masa Umar bin Khatab terjadi di tahun 13 Hijriah atau 634 Masehi hingga 23 Hijriah atau 644 Masehi. Kepemimpinannya ini berjalan selama 10 tahun 6 bulan.

Pada masa Umar bin Khatab, Byzantium atau Imperium Roma Timur kehilangan sebagian wilayah kekuasaannya di pesisir utara Afrika dan pesisir barat Asia. Islam diduga telah mengambil alih kekuasaan bagian imperium parsi hingga perbatasan Asia Tengah.

Umar bin Khatab juga membawa kemajuan di beberapa sektor dalam pemerintahan. Islam bahkan mampu mengambil alih daerah Mesopotamia dan sebagian Persia dari genggaman Dinasti Sassanid Persia.

Selain tanah Mesopotamia, masa Umar bin Khatab juga menandai Mesir, Palestina, Afrika Utara, Armenia, Syria, dan Byzantium sebagai daerah kekuasaan Islam.

Catatan sejarah mengungkapkan bahwa ada banyak pertempuran besar dalam perebutan daerah kekuasaan ini.

Diketahui pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di area dekat Damaskus, ada setidaknya 20 ribu pasukan Islam yang memenangkan pertempuran melawan 70 ribu pasukan Romawi. Pertempuran ini menandai berakhirnya kekuasaan Romawi di bagian selatan Asia Kecil.

Di tahun 638, Umar memerintahkan adanya perluasan dan renovasi Masjidil Haram di Makkah serta Masjid Nabawi di Madinah.

Melakukan banyak reformasi administratif, mengadakan sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam, dan memperkuat posisi kebijakan publik pada pemerintahan. Selain itu, Umar juga mulai mengawali proses kodifikasi hukum Islam yang berkembang.

Pada tahun ke-4 pemerintahannya atau lebih tepatnya di tahun 17 Hijriah, Umar mengeluarkan titah bahwasanya keberhasilan/kemajuan Islam hendaknya mulai dikumpulkan dan dihitung sejak saat peristiwa hijrah hingga saat itu.

Adapun beberapa keberhasilan yang berhasil dikumpulkan ialah sebagai berikut.

  • Peletakan dasar-dasar yang digunakan untuk keperluan administrasi negara ataupun pemerintahan I
  • kemajuan pesat dari bidang pertanian dan industri.
  • Majunya bidang keilmuan umat I
  • Keberhasilan usaha ekspansi ke luar daerah Islam secara besar-besaran.
  • Membentuk baitul maal.

4. Masa Utsman bin Affan

Utsman bin Affan dipilih sebagai khalifah setelah wafatnya Umar bin Khatab dengan cara pemilihan yang dilakukan secara mufakat oleh dewan Syuura gawangan Khalifah Umar sebelum beliau meninggal.

Dewan Syuura sendiri merupakan sebuah majelis atau bisa juga disebut sebagai panitia pemilihan yang terdiri dari 6 sahabat di berbagai kelompok sosial.

Anggota dari dewan Syuura ialah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair, dan Abdurrahman bin Auf.

Akan tetapi, pada saat pemilihan khalifah Utsman berlangsung, Thalhah tidak dapat menghadiri pertemuan. Karenanya, hanya ada 5 dari 6 anggota yang menyuarakan pendapatnya.

Pada dasarnya, kondisi umat Islam di masa ini sudah makmur dan bahagia. Daerah kekuasaan Islam pun bertambah luas seiring dengan bertambahnya waktu. Kestabilan sosial politik di dalam negeri juga sudah sangat baik.

Karenanya, masa Utsman ini lebih berfokus pada bagaimana cara untuk meneruskan sebagian besar garis politik umar dan pemimpin sebelumnya. Utsman diketahui banyak melakukan ekspedisi untuk memperoleh wilayah kekuasaan baru di luar Arab.

Terdapat beberapa kemajuan yang diraih pada masa Utsman bin Affan. Beberapa kemajuan tersebut ialah penyatuan Qiraat Quraisy, pembukuan Al-Qur’an menjadi buku utuh pada akhir periode 24 Hijriah, dan perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, serta ekspansi wilayah kekuasaan Islam.

5. Masa Ali bin Abi Thalib

Sesaat setelah Utsman bin Affan wafat, masyarakat beramai-ramai menunjuk Ali bin Abi Thalib untuk menjadi pemimpin yang baru.

Di masa pemerintahannya, Ali banyak menghadapi pergolakan yang tidak mudah untuk dikendalikan. Kondisi negara juga jauh dari kata stabil.

Segera setelah penunjukannya resmi diumumkan, Ali memecat sebagian besar Gubernur yang diangkat oleh Utsman bin Affan. Ali menilai bahwa munculnya pemberontakan diakibatkan karena keteledoran yang mereka lakukan.

Ali juga menarik kembali tanah-tanah yang diberikan oleh Utsman kepada para penduduk untuk digarap. Ia juga kembali menerapkan kebijakan Umat terkait penyerahan pajak tahunan.

Pada akhir masa kepemimpinan Utsman bin Affan, banyak terjadi fitnah besar yang merebak di kalangan umat muslim di daerah Basrah, Kuffah, dan juga Mesir. Fitnah itu disebarkan oleh sekumpulan kaum munafik yang dikepalai oleh Abdullah bin Saba.

Fitnah yang tersebar telah menghasut beberapa pihak yang terkait untuk kemudian menuntut serta memberontak guna mendorong mundur Utsman bin Affan dari kursi kekuasaannya.

Suatu waktu, para pemberontak tersebut menyerang kediaman Utsman bin Affan dan membunuhnya. Tatkala kejadian itu terjadi, Utsman sedang membaca Al-Qur’an dan kebetulan menjalani puasa sunnah.

Setelah mendengar kabar tersebut, kaum muslimin berada dalam kesedihan yang cukup mendalam serta mengalami kegundahan pasca meninggalnya Khalifah Utsman. Selama kurang lebih lima hari, kaum muslimin berjalan tanpa adanya sosok pemimpin yang memimpinnya.

Kaum pemberontak berupaya untuk melakukan pendekatan kepada Ali bin Abi thalib dengan maksud mendukungnya maju sebagai khalifah. Pendekatan ini dipelopori oleh Al-Ghafiqi  dari kelompok besar pemberontakan di Mesir. Akan tetapi Ali menolak upaya tersebut.

Setelah kepergian khalifah Utsman, tidak ada lagi kandidat yang pantas untuk menjadi khalifah dibandingkan dengan Ali bin Abi Thalib. Pasalnya Ali memang sudah menjadi tokoh yang cukup populer akan kecakapannya saat itu.

Terlebih lagi, tidak ada satu orang pun yang mencalonkan dirinya untuk menjadi khalifah, menggantikan posisi  Utsman bin Affan. Termasuk juga dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan yang tidak mengajukan diri sebagai calon khalifah berikutnya.

Di samping itu, ada pula sebagian kalangan dari Bani Umayyah yang enggan membaiat Ali dan memilih untuk pergi ke Suriah. Meskipun mereka tahu bahwa mayoritas umat Muslim di Madinah telah memutuskan untuk memilih Ali bin Abi Thalib.

Sebagian Bani Umayyah dan juga keluarga besar dari Khalifah Utsman yang menolak pengangkatan Ali bin Abi Thalib menuntut untuk penangkapan pembunuh Utsman terlebih dahulu, baru kemudian memilih pengganti khalifah selanjutnya.

Ada pula pendapat lain yang muncul dari kubu Ali mengungkapkan bahwa masalah kepemimpinanlah yang patutnya diselesaikan lebih dulu, baru setelahnya mengusut siapa pembunuh Utsman.

Perbedaan kedua pendapat tersebut menjadi salah satu faktor penyebab pecahnya persatuan kaum muslimin di masa itu. Walau pada akhirnya, Ali bin Abi Thalib tetap diangkat sebagai khalifah penerus Utsman.

Meskipun masa kepemimpinannya banyak menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak, Ali bin Abi Thalib banyak memberikan kemajuan bagi Islam. Beberapa kemajuan yang berhasil diraih pada masa Ali bin Abi Thalib ialah sebagai berikut.

a. Memajukan Bidang Ilmu Bahasa

Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, wilayah Islam sudah meluas hingga ke daratan India.

Tapi pada kala itu, ada banyak kesalahan-kesalahan bacaan teks Al-Qur’an dan Hadis, khususnya untuk daerah Islam yang jauh dari Jazirah Arab, dikarenakan penulisan huruf hijaiyah belum dilengkapi dengan tanda baca seperti fathah, kasrah, dhammad, serta syaddah.

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut ialah mengembangkan ajaran dan pokok ilmu nahwu atau ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa Arab.

b. Membenahi Keuangan Negara (Baitul Mal)

Ali bin Abi Thalib banyak menyita harta pejabat yang diperoleh dengan cara tidak benar. Harta sitaan tersebut kemudian disimpan di baitul mal dan akan didistribusikan untuk menyejahterakan umat muslim.

c. Mengganti Pejabat yang Kurang Kompeten

Ali bin Abi Thalib banyak merombak susunan pejabat yang terlibat dalam administrasi negara. Beliau banyak mengurangi pejabat yang dianggapnya kurang konsisten dalam melakukan pekerjaannya.

Kebetulan, kebanyakan pejabat yang dipangkas dari jabatannya tersebut berasal dari keluarga Khalifah Utsman bin Affan atau Bani Umayyah. Tidak mengherankan jika kemudian banyak muncul pemberontak dari Bani Umayyah yang tidak menyukai pribadi Ali bin Abi Thalib.

d. Bidang Pembangunan

Kota Kufah menyita perhatian khusus dari Khalifah Ali bin Abi Thalib untuk bidang pembangunan. Kota Kufah sendiri pada awalnya sudah disiapkan untuk menjadi pusat pertahanan dari kelompok yang dipimpin oleh Mu’awiyah bin Abi Sofyan.

Namun, kota Kufah malah dikembangkan menjadi pusat ilmu nahwu, ilmu tafsir, ilmu hadist, dan jenis pengetahuan keilmuan lainnya. Hal ini menyebabkan perselisihan antara Mu’awiyah bin Abu Sofyan dan pendukung Ali memanas.

Perselesihan itu jugalah yang menyebabkan berakhirnya pemerintahan Islam di bawah kepemimpinan khulafaurrasyidin, selaku tokoh pemimpin Islam yang paling mendekati masa Nabi Muhammad SAW.

Sejarah Islam di Indonesia/Nusantara

Sejarah-Islam-di-Indonesia-Nusantara

Sejarah perkembangan Islam di Indonesia merata mulai dari ujung utara pulau Sumatra hingga perbatasan Papua.

Di Indonesia, terdapat beberapa teori perkembangan Islam yang berkembang berdasarkan dengan apa yang dikemukakan oleh para ahli. Salah satu dari beberapa teori yang paling populer ialah teori Gujarat, Makkah, Persia, dan Muslim China.

1. Teori Gujarat

Tokoh peneliti dari Belanda seperti Snouck Hurgronje, Pijnapel, dan Moquette mengungkapkan bahwa masuknya Islam di Indonesia berasal dari Gujarat, India.

Bersumber dari teori ini, ajaran Islam dibawa oleh orang-orang Islam asli dari Arab yang melakukan perjalanan ke arah Gujarat, India. Di sana, Islam dengan Mazhab Syafi’i berkembang sesuai dengan ajaran orang-orang Islam Arab tersebut.

Setelah itu, orang-orang dari Gujarat yang sebelumnya sudah mendalami ajaran Islam membawanya ke daratan Nusantara.

Sebelumnya, orang Gujarat banyak yang memiliki hubungan dagang dengan orang Nusantara. Sehingga penyebaran ajaran Islam pun dapat dilakukan dengan lancar.

Karena hal tersebutlah yang menyebabkan kenapa Mazhab yang dianut muslim dari Indonesia dan juga Gujarat memiliki kesamaan, yakni Mazhab Syafi’i

Di lain sisi, Moquetta menuliskan pendapatnya bahwa masuknya ajaran Islam di Indonesia dari Gujarat diperkuat dengan adanya bukti nisan milik Sultan Malik Al-Saleh di Pasai yang memiliki kesamaan model dengan nisan yang ditemukan di Kambay Gujarat.

2. Teori Makkah

Teori Makkah mengungkapkan bahwa ajaran Islam yang masuk ke Indonesia bermula pada abad ke-7 Masehi atau abad pertama dalam kalender Hijriah.

Dalam teori ini, Ulama Buya Hamka berpendapat bahwa agama Islam yang berasal dari Jazirah Arab atau daratan Mesir yang dibawa oleh para kaum musafir dari kalangan kaum Sufi.

Berdasarkan pada apa yang diungkapkan oleh A. H Johns, kaum Sufi kerap mengembara ke tempat-tempat di berbagai belahan dunia untuk mendirikan tarekat atau perkumpulan.

Buya juga menuliskan di dalam bukunya yang berjudul Membongkar Kejumudan: Menjawab Tuduhan-Tuduhan Salafi Wahhabi, bahwa orang-orang dari Gujarat hanya singgah untuk sementara waktu di Indonesia.

Para pedagang yang berasal dari Arab telah masuk dan membuat hubungan terlebih dahulu dengan orang Indonesia sebelum Gujarat.

3. Teori Persia

Menurut teori Persia yang dikemukakan oleh P.A. Hoesein Djajadiningrat, datangnya Islam ke Indonesia berasal dari Persia. Bukan tanpa alasan, P.A. Hoesein Djajadiningrat menilai ada banyak persamaan budaya Islam dari kedua negara terkait, yaitu antara Persia dan Indonesia.

Seperti contohnya adalah peringatan 10 Muharam atau peringatan Assyura yang diadakan secara rutin memperingati syahidnya Hussein yang ada di kedua negara.

Selain itu, penggunaan ejaan dalam membaca huruf Arab di antara orang Indonesia dan Persia juga memiliki kemiripan. Pun dengan ajaran Sufi Iran Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar yang sama-sama berkembang dalam bentuk puisi.

Catatan sejarah Islam di Jawa juga menyebutkan bahwa Islam di Persia menggunakan Mazhab Syafi’i, sebagaimana dengan yang dianut oleh muslim di Indonesia.

4. Teori Muslim China

Masuknya Islam di Indonesia juga diberitakan berasal dari umat muslim yang datang dari daratan China.

Dalam teori ini, dijelaskan akan adanya pedagang muslim yang berasal dari China datang dan kemudian menetap di Indonesia dengan melalui rute Palembang di sekitar abad ke-9. Dari situ, para pedagang China banyak melangsungkan perkawinan dengan warga setempat.

Bukan sebatas pernikahan orang biasa dan para pedagang yang singgah saja, tapi iuga perkawinan seorang wanita dari Chinadengan Raja Brawijaya V. Pernikahan tokoh besar itu kemudian melahirkan anak yang diberi nama dengan Jin Bun.

Nantinya, anak tersebutlah yang dikenal orang-orang sekarang sebagai Raden Patah, atau raja pertama kesultanan Demak.

Sejarah Islam di Eropa

Sejarah-Islam-di-Eropa

Di Eropa, agama Islam menjadi agama terbesar nomor 2 setelah Kristen. mayoritas pemeluk muslim di kawasan Eropa berasal dari luar Eropa, alias imigran. Walau begitu, banyak pula penduduk asli di daerah Balkan yang sudah memeluk agama Islam.

Masuknya Islam ke Eropa disebabkan karena adanya invasi Moor dari Afrika Utara sekitar abad ke 8 hingga 10. Entitas politik muslim di sana berdiri dengan kokoh selama beberapa abad.

Lebih tepatnya, entitas politik muslim tersebut berada di kawasan Malta, bagian selatan Italia, Spanyol, dan Portugal. Kemudian, di abad ke-15, komunitas muslim di kawasan tersebut dikonversikan ke wilayah lain.

Setelah adanya penaklukkan Kaukasus oleh Dinasti Persia pada abad ke-16, perluasan daerah Islam terjadi dalam waktu yang cukup cepat.

Kesultanan Utsmaniyah secara bertahap kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya di Eropa selama berabad-abad. Hingga akhirnya, kekuasaan Utsmaniyah runtuh pada tahun 1922.

Umat Islam yang ada di Eropa seringkali menjadi subjek untuk perdebatan yang berkaitan erat dengan kampanye politik. Terkadang hal tersebut malah menjadi isu yang lebih hangat untuk diperbincangkan sebagai berita nasional.

Sebut saja peristiwa seperti serangan para teroris, perdebatan perihal cara berpakaian Islami, kontroversi kartun Rasulullah di Denmark, hingga kampanye dari partai-partai sayap kanan yang populis ketika melihat muslim sebagai ancaman yang berbahaya.

Berbagai peristiwa itu banyak memicu kemunculan perdebatan yang berkembang terkait dengan topik sikap muslim, partai kanan, serta isu islamophobia di Eropa.

Sesaat setelah percobaan invasi kaum muslim ke Eropa, Byzantium Sisilia tertaklukkan oleh armada kecil pada tahun 652 oleh Pasukan Rasyidin. Di tahun 711, Islam menaklukkan hampir seluruh daratan di benua Eropa.

Peristiwa tersebut ditandai dengan adanya penaklukkan Umayyah terhadap Hispania. Kemudian orang-orang Arab mengubah nama Hispania menjadi Al-Andalus. Cakupan area Al-Andalus sendiri meliputi wilayah negara Portugal dan juga Spanyol, terkecuali untuk daratan tingginya yang ada di bagian utara.

Di sekitar abad ke-10, Al-Andalus diperkirakan mempunyai penduduk bermayoritas muslim sebagai akibat karena sebagian besar penduduk aslinya masuk Islam secara sukarela.

Hal itu bertepatan dengan adanya periode keemasan kebudayaan Yahudi yang ada di Spanyol dan juga periode La Convivencia di Semenanjung Siberia.

Kekalahan tidak terduga tersebut menggugah kembali kesadaran Pasukan Kristen untuk mengambil alih apa yang dulu pernah dimilikinya. Secara perlahan, Pasukan Kristen memulai ekspedisinya untuk kembali menaklukkan kerajaan Taifa yang terletak di Al-Andalus.

Di sekitar abad ke-8, serangan balik itu dikenal sebagai Reconquesta, yang menandai keberhasilannya dalam mendorong mundur Pasukan Muslim ke daerah Perancis bagian Selatan.

Dibawah kepemimpinan Dinasti Aghlabids, Pasukan Muslim berhasil menaklukkan Sisilia setelah adanya serangkaian upaya di tahun 827 hingga 902. Salah satu penaklukkan yang paling populer adalah penyerangan atas Roma di tahun 846.

Kemudian ada pula peristiwa keamiran Sisilia di tahun 965 yang berhasil didirikan. Hingga akhir abad ke-10, masih terdapat sisa-sisa Pasukan Muslim di bagian utara Spanyol, lebih presisinya adalah di Fraxinet hingga ke daerah Swiss.

Penguasaan atas Italia Selatan oleh orang-orang Arab, meskipun pada akhirnya terusir karena Normandia di tahun 1072. Umat muslim yang tersisa di tanah Eropa pada 1236 tinggal di kawasan Spanyol bagian selatan, tepatnya di Provinsi Granada.

Komunitas Yahudi dan juga Komunitas Kristen diperlakukan sebagai kaum dzimmi atau non-muslim. Penentuan tersebut terjadi setelah orang-orang Arab mulai menerapkan Syariah yang ada.

Dalam ketentuannya, seorang dzimmi wajib untuk membayarkan pajak tanah (kharaj) lengkap dengan pajak perseorangan (jizyah). Mereka juga dibebaskan dari adanya wajib zakat.

Pembayaran pajak ini dilakukan sebagai bentuk pertukaran terhadap perlindungan dari adanya serangan, baik luar maupun internal. Sekaligus menjadi penanda akan status yang dimiliki bahwasanya mereka adalah subjek yang tinggal dalam kawasan pemerintahan Islam.

Sejarah Islam di Amerika

Sejarah-Islam-di-Amerika

Sejarah Islam di tanah Amerika dimulai sejak abad ke-16. Yang mana pada saat itu, Estevanico dari Azamor menjadi muslim pertama yang menjejakkan kakinya di Amerika Utara.

Namun, terdapat perbedaan pendapat tentang sejarah awal mula kedatangan muslim di Amerika. Pasalnya beberapa peneliti yang mempelajari tentang kedatangan Muslim di Amerika, memfokuskan penelitiannya pada kedatangan imigran di abad ke-19 dari Timur Tengah.

Menilik dari pendapat yang pertama, Estevanico mungkin telah menjadi muslim pertama yang tercatat di dalam catatan sejarah Islam di Amerika Utara.

Estevanico sendiri merupakan seorang berber dari daratan Afrika Utara yang gemar menjelajahi area Arizona dan juga New Mexico untuk keperluan Kerajaan Spanyol. Itulah mengapa Estevanico kerap kali disebut sebagai seorang budak penjelajah dari Spanyol.

Masih di abad yang sama, abad ke-16, telah banyak didatangkan budak asal Afrika di Amerika Utara. Bahkan diperkirakan adanya sekitar 4,4% orang dari kapasitas total 11.328.000 jiwa budak yang ada, atau sekitar 500 ribu orang.

Dari 50% budak tersebut, diperkirakan tidak kurang dari 200 ribu jiwa budak datang dari daerah-daerah yang terpengaruhi oleh ajaran Islam.

Dilansir dari sumber lain, imigran muslim mulai masuk ke kawasan benua Amerika pada tahun 1875 dan 1912. Imigran tersebut menyangkut kawasan pedesaan yang kini menjadi Yordania, Suriah, Israel, dan Palestina.

Dulunya daerah tersebut dipimpin oleh Kekaisaran Ottoman dan dikenal sebagai Suriah Raya. Setelah Kekaisaran Ottoman runtuh akibat Perang Dunia I, imigrasi kaum muslim di Timur Tengah mengalami gelombang yang kedua.

Di mana dalam periode tersebut, terdapat awal dari peristiwa kolonialisme oleh bangsa barat di Timur Tengah.

Setelah aturan keimigrasian Amerika Serikat disahkan pada tahun 1924, gelombang imigrasi segera memberlakukan sistem kuota negara asal.

Gelombang ketiga dari imigrasi kaum muslim terjadi pada sekitar tahun 1947 hingga 1960. Kala itu, terjadi peningkatan jumlah orang muslim yang datang ke Amerika. Hanya saja ada hal yang berbeda, pasalnya kebanyakan imigran tidak lagi terbatas dari negara di Timur Tengah.

Dilanjut pada tahun 1965, gelombang keempat imigrasi kaum muslim terjadi. Sistem kuota negara asal yang sudah diterapkan dalam waktu yang cukup lama dihapuskan oleh Presiden Lyndon Johnson.

Penghapusan tersebut dibarengi dengan adanya rancangan Undang-Undang yang mengatur tentang keimigrasian.

Sejarah Islam di India

Sejarah-Islam-di-India

Walaupun bukan agama mayoritas di India seperti ajaran Hindu dan Buddha, ajaran Islam mengalami perkembangan yang sangat cepat dan stabil.

Sejarah Islam di wilayah India diketahui disebarkan oleh pendakwah muslim dari Turki, Iran, Bukhara, Afghanistan, dan Yaman. Dari beberapa pendakwah yang datang, salah satu yang terkenal adalah Khwaja Chishti dari Iran.

Penyebaran Islam di India diperkirakan terjadi pada abad ke-8 saat bangsa Arab mulai menginvasi India Utara atau yang sekarang menjadi Pakistan. Dalam invasinya tersebut, bangsa Iran berhasil menduduki daerah India.

Pada awalnya, kebanyakan muslim dari orang India berasal dari strata orang-orang di kelas rendahan.

Seiring dengan perkembangannya, terdapat beberapa penguasa muslim yang mengambil peran dalam penyebaran agama Islam di India. Tercatat ada pedagang, tentara, dan juga budak mereka yang berasal dari berbagai belahan dunia seperti Afrika, Rusia, Turki, dan bahkan Arab.

Orang-orang bawaan tersebut diperkirakan membuat hubungan pernikahan dengan orang India, kemudian memutuskan untuk masuk Islam.

Akibat fenomena itu, penduduk muslim yang ada di India dibagi ke dalam beberapa kelompok yang berbeda. Di bagian barat India, muslim dibagi menjadi Khoja dan Bohra. Di sana ada banyak pendakwah muslim yang memengaruhi jalannya komunitas muslim.

Sementara itu, dii bagian selatan India, terdapat komunitas Mophilla yang dinaungi oleh para pedagang dari Arab. Ada juga komunitas Nawait yang berisikan muslim dari imigran Persia dan Arab.

Komunitas muslim yang populer di India adalah Pathan, yang mana merupakan muslim yang berasal dari Afganistan. Umumnya, mereka memiliki nama marga Khan dan terkenal akan gambaran yang jujur, baik, dan berani.

Selain pendapat tersebut, ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwasanya penyebaran Islam terjadi pada abad ke-7 oleh pedagang dari Arab. Diperkirakan, hubungan yang terjadi antara subkontinen dan pedagang Arab sudah berlangsung untuk waktu yang sangat lama.

Banyak transaksi perdagangan oleh bangsa Arab yang kemudian memengaruhi penyebaran Islam dan budayanya di tanah India. Pedagang Arab tersebut sering mengunjungi wilayah Malabar yang menghubungkan mereka dengan pelabuhan di Asia Tenggara secara langsung.

Islam memengaruhi banyak sektor kehidupan ketika berkembang di India. Misalnya saja dalam sektor perdagangan. Sektor tersebut mengembangkan sistem hukum dagang yang sesuai dengan syariah Islam sekaligus menekankan legalitas yang terjadi antar pelaku perdagangan.

Sistem seperti itu sebelumnya sudah berkembang di Maroko bagian barat, Mongolia bagian timur laut, hingga bagian tenggara dari Indonesia.

Adanya pembangunan jalan dan konstruksi Grand Trunk Road pada tahun 1540 hingga 1544 menandai perkembangan perdagangan di India yang pesat. Pembangunan tersebut diperkirakan menghubungkan daerah Kalkuta ke Kabul.

Perkembangan lainnya juga ditemukan pada sektor teknologi. Misalnya, pembuatan roda air yang dapat digunakan untuk irigasi sawah orang-orang muslim.

Penggunaan keramik di India yang banyak dipengaruhi oleh tradisi Iran, Irak, dan Asia Tengah juga menjadi penanda perkembangan Islam. Perkembangan lainnya ialah pembuatan tembikar biru oleh Rajasthan yang diadopsi dari tembikar China banyak diimpor dari Kerajaan Mughal.

Masih di masa yang sama, terdapat pembuatan kertas dan juga penjilidan buku untuk meningkatkan tingkat literasi yang ada.

Di sisi budaya, Islam banyak memengaruhi komponen pada pakaian, bahasa, seni, arsitektur, kuliner, penulisan kitab dan bahkan desain urban. Bahasa India yang dimodifikasi dengan bahasa muslim berubah menjadi bahasa yang sekarang kita kenal sebagai Urdu.

Perkembangan Islam juga terjadi pada bidang ilmu pengetahuan dan ilmu alam. Diketahui, ada banyak akademisi yang terlibat dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan di bawah naungan penguasanya.

Selain itu, muncul juga produk-produk kebudayaan arsitektur Islam yang digawangi oleh Mughal di India. Sebut saja Taj Mahal dan Jama Masjid. Kerajaan Mughal sendiri merupakan salah satu kerajaan Islam yang cukup terkenal di India.

Dulunya bahkan kerajaan ini pernah menguasai seluruh India dengan jangkauan Balochistan, Afghanistan, hingga sebagian besar anak benua India di tahun 1526-1857. Di masa kejayaannya, kerajaan ini berhasil menjadi kerajaan terbesar yang ada di Asia Selatan.

Wilayah kekuasaannya membentang mulai dari dataran tinggi Dekkan di India Selatan, Bangladesh di Timur, dataran tinggi Assam, Kashmir di utara, Afganistan utara di bagian barat laut, hingga pinggiran luar dari lembah indus di bagian baratnya.

Terdapat beberapa produk kebudayaan yang dibangun pada masa kerajaan Mughal berkuasa. Salah satu di antaranya ialah Benteng Agra di Agra, India.

Kemudian ada pula Benteng Allahabad di Prayagraj (India), Benteng Lalbagh di Dakka (Bangladesh), dan Benteng Dahore di Lahore (Pakistan).

Ada pula Benteng Merah di Delhi, aindia. Taman Babur di Kabul, Afganistan. Serta salah satu bagian dari 7 keajaiban dunia di Agra, India yakni Taj Mahal.

Peninggalan Peradaban Islam

Peninggalan-Peradaban-Islam

Terdapat beberapa peninggalan dari peradaban Islam yang masih bersisa di dunia. Beberapa diantaranya adalah tempat suci seperti Ka’bah, Masjidil haram, Masjidil Aqsa, Masjid Nabawi, dan juga Masjid Quba.

Ada pula peninggalan Mushaf Al-Qur’an dan berbagai jenis ilmu pengetahuan. Sebut saja ilmu kedokteran oleh Ibnu Sina dan Ilmu aljabar oleh Al Khawarizmi yang diabadikan dalam bentuk novel pengetahuan.

Di bidang militer dan pertahanan, Islam meninggalkan Pedang Damaskus dan Benteng Alhambra di Granada.

Sejarah Islam lengkap yang diungkapkan oleh berbagai sumber memiliki sedikit perbedaan antara pendapat yang satu dengan yang lainnya. Meskipun begitu, semua pendapat tersebut bisa dibenarkan dengan persepsi dan sudut pandang yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *