Sejarah Pancasila Sebelum Kemerdekaan dan Tokoh Pentingnya

7 min read

sejarah-pancasila

Sebagai warga Indonesia, Anda wajib mengetahui sejarah Pancasila yang merupakan dasar negara. Pancasila dibentuk oleh para pemimpin terdahulu untuk menciptakan negara yang adil dan berdaulat.

Perumusan Pancasila juga dibilang tidak mudah. Ada banyak perubahan dan diskusi panjang hingga akhirnya disahkan Pancasila yang Anda kenal sekarang ini. Maka, pahami betul sejarah Pancasila lengkap, mulai dari sebelum kemerdekaan Indonesia.

Sejarah Pancasila Sebelum Kemerdekaan

Indonesia mengalami penjajahan selama 350 tahun oleh Belanda. Setelah Belanda menyerah terhadap Jepang, Indonesia pun turut kedatangan pasukan Jepang. Di sinilah para pemimpin mulai merencanakan landasan negara yaitu Pancasila.

1. Membentuk BPUPKI pada 29 April 1945

Membentuk BPUPKI pada 29 April 1945

Guna mempersiapkan kemerdekaan tersebut, para pemimpin kala itu akhirnya membentuk BPUPKI yaitu Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Badan ini bertujuan untuk membahas semua hal yang ada hubungannya soal tata pemerintahan.

Dengan begitu, BPUPKI juga akan membahas dasar negara sebagai persiapan proklamasi kemerdekaan.  Sidang kemudian menjadi tonggak penting dalam membuat Pancasila sebagai dasar negara.

Sidang BPUPKI yang pertama dilakukan pada 29 Mei sampai 1 Juni 1945. Sidang tersebut dipimpin oleh Dr. Radjiman Widyodiningrat dengan 33 orang pembicara. Dalam sidang ini, Mohammad Yamin termasuk ke dalam tokoh penting.

Beliau adalah orang yang mengusulkan dasar negara dan disampaikan pada sidang tersebut. Beberapa dasar negara yang diusulkan antara lain peri kerakyatan, peri kemanusiaan, peri kebangsaan dan kesejahteraan rakyat.

Mohammad Yamin juga mengusulkan lima dasar yang menjadi gagasan tertulis sebagai naskah rancangan UUD 1945. Poin tersebut antara lain Ketuhanan yang Maha Esa, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan kebangsaan persatuan Indonesia.

Tak lupa, beliau juga memasukkan poin mengenai kerakyatan yang bijaksana serta rasa kemanusiaan yang beradap dan juga adil Tidak hanya Mohammad Yamin saja, Soepomo juga termasuk tokoh yang berperan penting.

Dalam sidang pertama ini, Soepomo juga mengusulkan beberapa poin sebagai dasar berbangsa dan bernegara. Poin tersebut antara lain adanya perhubungan antara negara dan agama, sosialisasi negara, adanya paham persatuan serta hubungan antar bangsa.

Soekarno juga turut mengusulkan poin sebagai dasar negara. Mulai dari mufakat dan demokrasi, Ketuhanan yang berkebudayaan, kebangsaan Indonesia, kesejahteraan sosial serta internasionalisme.

Lima poin yang dibawa oleh para tokoh ini kemudian dirumuskan dalam nama Pancasila. Usulan tersebut kemudian dibahas dalam lingkup yang lebih kecil. Panitia yang mendiskusikan tersebut diberi nama Panitia Sembilan.

2. Panitia Sembilan pada 22 Juni 1945

Panitia Sembilan pada 22 Juni 1945 

Sesuai namanya, panitia yang punya anggota sembilan orang ini akhirnya sukses membuat naskah sebagai Rancangan Pembukaan UUD. Kala itu, naskah ini juga disebut dengan Piagam Jakarta. Dalam piagam tersebut disampaikan beberapa poin.

Dimulai dari poin ketuhanan yang mewajibkan orang untuk menjalankan syariat Islam untuk pemeluknya. Kemudian ada poin kemanusiaan, persatuan dan juga keadilan sosial. Terakhir, piagam Jakarta juga memasukkan poin kerakyatan yang dipimpin sebuah kebijaksanaan.

3. Sidang BPUPKI II pada 10-16 Juli 1945

Sidang BPUPKI II pada 10-16 Juli 1945 

Setelah Panitia Sembilan menyelesaikan tugasnya, BPUPKI kemudian langsung membuat sidang kedua. Ada beberapa keputusan penting yang diambil dalam sidang ini. Pertama, menjadikan Pancasila yang tertuang dalam Piagam Jakarta sebagai dasar negara.

Keputusan kedua adalah menyepakati Indonesia akan menjadi negara Republik. Hasil ini diambil dari kesepakatan 55 orang dari 64 orang yang turut berkontribusi dalam sidang tersebut. Ketiga, sidang ini juga menyepakati soal wilayah Indonesia.

Dari hasil 39 suara sepakat bahwa Indonesia juga meliputi wilayah Malaka, Timor Timur dan juga Hindia Belanda. Terakhir, sidang ini juga membentuk panitia kecil yaitu Panitia Pembela Tanah Air, panitia untuk merancang UUD dan juga panitia khusus ekonomi.

Dengan segala persiapan tersebut akhirnya pada 17 Agustus 1945, Indonesia menyampaikan proklamasi kemerdekaan. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pun menggantikan fungsi BPUPKI. Badan ini akan menyempurnakan dasar negara.

Sejarah Revisian Pancasila

Pancasila tidak serta merta langsung diterima dan tidak mengalami perubahan. Beberapa kali Pancasila mengalami revisi. Berikut sederet momen sejarah mengenai revisian Pancasila yang terjadi setelah kemerdekaan.

1. Protes dari Indonesia Bagian Timur

Protes dari Indonesia Bagian Timur

Munculnya PPKI akhirnya membuat sejarah Pancasila singkat menjadi diskusi dan perdebatan kembali. Muhammad Hatta kala itu mengusulkan perubahan pada poin ketuhanan.

Semula sila tersebut berbunyi Ketuhanan yang mewajibkan untuk menjalankan syariat Islam untuk pemeluknya. Akhirnya di buatlah sila yang lebih ringkas yaitu “Ketuhanan yang Maha Esa”

Penghapusan kalimat pada sila tersebut sempat menjadi isu yang cukup menjadi perdebatan saat ini. Bahkan, masih juga diperdebatkan hingga sekarang. Namun, para tokoh kala itu tetap mempertahankan poin yang lebih ringkas dan bisa berlaku kepada seluruh rakyat.

Perubahan ini juga didorong oleh datangnya utusan yang hadir dari Indonesia Bagian Timur. Para utusan ini datang setelah Soekarno mengumumkan proklamasi pada 17 Agustus 1945. Utusan ini yang mendorong Mohammad Hatta melakukan berbagai perubahan.

Utusan tersebut antara lain wakil dari Kalimantan yaitu Ir. Pangeran Noor, perwakilan dari Sulawesi yaitu Sam Ratulangi, Nusa Tenggara diwakili oleh I Ketut Pudja hingga Maluku yang diwakili oleh Latuharhary.

Protes kecil inilah yang yang membuat PPKI menggelar sidang pertama pada 18 Agustus. Di situlah Bung Hatta mengusulkan kalimat sila pertama yang diubah menjadi Ketuhanan yang Maha Esa.

Pergantian kalimat ini juga melibatkan berbagai toko islam kala itu. Teuku M. Hasan, Wahid Hasyim, Kasman Singodimejo serta Ki Bagus Hadikusumo. Seluruh tokoh islam tersebut akhirnya menyetujui adanya perubahan kalimat itu.

Penetapan rancangan pembukaan yang menjadi batang tubuh UUD 1945 akhirnya dilakukan pada sidang PPKI pertama tersebut. Di sinilah menjadi tanda bahwa Pancasila secara resmi dan diterima semua pihak menjadi dasar negara.

2. Perubahan Mukkadimah Konstitusi Republik Indonesia

Perubahan Mukkadimah Konstitusi Republik Indonesia

Kemerdekaan Indonesia tampaknya tidak semulus yang dibayangkan. Pada 1949, Belanda masih belum mengakui keberadaan Indonesia yang merdeka. Akhirnya pada 27 Desember 1949, Indonesia berubah menjadi Konstitusi Republik Indonesia Serikat (RIS).

Kondisi ini berlaku sampai 17 Agustus 1950. Setelah itu, Indonesia kembali disebut menjadi negara kesatuan alias NKRI. Lantas, apakah hal ini mengubah dasar negara dan ideologi negara? Tidak banyak perubahan, hanya saja penamaannya diubah menjadi mukadimah.

Di dalam mukadimah terdapat piagam persetujuan yang berisi dasar dan ideologi negara. Pembukaan UUD 1945 yang dipakai berhubungan dengan kesatuan, ketuhanan, kedaulatan dan filosofi negara.

Secara umum, filosofi negara Pancasila masih dipertahankan oleh para pemimpin kala itu. Perjuangan pun terus dilakukan supaya mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari Belanda. Setelah 1950, Pancasila pun masih terus bertahan sebagai dasar negara.

3. Rumusan Pancasila Akhir di Era Soeharto

Rumusan Pancasila Akhir di Era Soeharto

Seiring perkembangan, sempat muncul Pancasila dengan berbagai versi mulai dari cara mengucapkan, urutannya hingga cara membacanya. Pemerintah era itu ingin mengantisipasi bila ada oknum yang ingin mengubah ideologi negara.

Maka pada 1968, Presiden Soeharto membuat Instruksi Presiden Nomor 12. Dalam instruksi tersebut dikemukakan rumusan pancasila yang baik dan benar. Sila pertama berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa.

Kemudian dilanjutkan dengan sila kedua yang melihat mengenai Kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila ketiga berhubungan dengan persatuan Indonesia. Sila berikutnya mengenai kerakyatan yang dipimpin dengan kebijaksanaan dalam permusyawaratan.

Terakhir, keadilan sosial bagi rakyat Indonesia. Akhirnya sejarah Pancasila terhenti sampai di poin pengesahan oleh Presiden Soeharto di era orde lama. Dalam instruksinya, beliau juga mengingatkan untuk tidak menggunakan ideologi negara lainnya selain Pancasila.

Secara singkat, Pancasila sendiri mengalami berbagai perubahan dokumen hingga sekarang yang Anda lihat dalam bentuk pdf. Rumusan pertama adalah Piagam Jakarta yang biasa disebut dengan Jakarta Charter. Piagam ini diresmikan pada 22 Juni 1945.

Rumusan kedua dibuat sehari setelah hari kemerdekaan yaitu Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945. Beberapa tahun kemudian terdapat rumusan yang ketiga yaitu Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember tahun 1949.

Kemudian ada rumusan yang disebut Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara setahun kemudian di tanggal 15 Agustus. Terakhir adalah rumusan terakhir yang merujuk kepada Dekrit Presiden di tanggal 5 Juli 1959.

Hingga terakhir pada masa pemerintahan Soeharto, Pancasila benar-benar dibuat seragam dan wajib diterima seluruh warga negara Indonesia. Untuk mengenangkan ideologi negara tersebut, Indonesia memperingati tanggal 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila. 

Tokoh-tokoh yang Berperan dalam Penyusunan Pancasila

Penyusunan Pancasila juga tidak lepas dari pertanyaan sebenarnya siapa saja tokoh yang menjadi latar belakang dari dasar negara itu sendiri. Berikut rangkuman dari tokoh yang memiliki peran penting di dalam pembuatan Pancasila yang Anda kenal hingga sekarang.

1.Ir. Soekarno

Ir. Soekarno

Pada masa kerajaan, Indonesia terbagi atas berbagai kerajaan yang punya kepemimpinan masing-masing seperti Majapahit. Setelah menjadi negara kesatuan, Indonesia memilih Soekarno sebagai pemimpin pertama yang menyatukan nusantara.

Presiden pertama ini memiliki peran penting dalam perumusan Pancasila. Peran Soekarno dalam berbagai organisasi perjuangan membuatnya menjadi salah satu tokoh yang ikut dalam sidang BPUPKI maupun PPKI.

Pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945, Soekarno membawakan sebuah pidato. Dalam pidato itulah, ia mulai mengungkapkan gagasannya mengenai rumusan lima poin yang akan menjadi dasar negara. Dari situlah dimulai disebut dengan Pancasila.

Lima poin tersebut dimulai dengan Kebangsaan Indonesia. Sebagai sosok yang nasionalis, Soekarno menanamkan semangat kebangsaan. Berbagai artikel menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang ingin memperjuangkan kesatuan negara.

Aktivitas politiknya bahkan membawanya ke pengasingan sampai ke Flores. Poin berikutnya yang diangkat oleh Soekarno adalah perikemanusiaan, kesejahteraan sosial dan mufakat. Menurutnya, hal inilah yang menjadi ciri khas Bangsa Indonesia.

Tak lupa Soekarno juga memasukkan poin Ketuhanan. Semua poin tersebut kemudian langsung menuai dukungan. Buah-buah pikiran Soekarno dianggap sangat mewakili kondisi Bangsa Indonesia sehingga sangat cocok bila dijadikan sebagai dasar negara.

2. Mohammad Hatta

Mohammad Hatta

Berbagai buku sejarah mengungkapkan betapa pentingnya peran Mohammad Hatta terhadap kepemimpinan Soekarno. Dengan nama panggilan Bung Hatta, tokoh ini selalu menenami Soekarno di awal masa berdirinya negara Indonesia.

Sama seperti Soekarno, Bung Hatta juga tumbuh dan menimba ilmu di tengah dunia politik. Hal inilah yang membuatnya bergabung ke berbagai organisasi hingga akhirnya ia hadir sebagai tokoh penggerak Partai Pendidikan Nasional Indonesia.

Sosok Bung Hatta juga kerap menulis berbagai artikel dan jurnal politik. Tak hanya itu saja, latar belakang pendidikan dari ekonomi membuat Bung Hatta juga fokus memberikan pandangannya terhadap perkembangan ekonomi di Indonesia.

Hal inilah yang membuat Bung Hatta juga turut bergabung dalam tokoh yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Poin dan materi yang disampaikan Soekarno banyak mendapatkan masukkan dari Bung Hatta.

Salah satu poinnya adalah kesejahteraan sosial. Ratusan tahun berada di penjajahan membuat Bung Hatta memiliki misi membuat Indonesia juga merdeka dari segi sosial ekonomi. Tak heran bila pemimpin pertama Indonesia masih dikenang hingga sekarang.

3. Soepomo

Soepomo 

Tokoh berikutnya adalah Soepomo. Meski namanya tak setenar Soekarno dan Hatta, tokoh nasional ini juga berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia. Soepomo termasuk tokoh yang ahli mengenai hukum.

Tentu hal ini sangat berpengaruh terhadap penyusunan dasar negara. Kecerdasan Soepomo didapatkan dari pendidikannya sejak dahulu. Apalagi Soepomo dikabarkan lahir dari keluarga ningrat. Maka tak heran bila Soepomo termasuk golongan berpendidikan tinggi kala itu.

Sebagai tokoh nasional yang banyak melakukan perjuangan, Soepomo hadir dalam sebuah gagasan yang disampaikan di dalam sidang 31 Mei 1945. Kala itu, Soepomo menyampaikan pidato sebagai bentuk mengemukakan pendapat dan gagasannya mengenai prinsip negara.

Soepomo menamai prinsip dan dasar negara tersebut dengan nama Dasar Negara Indonesia Merdeka. Terdapat lima poin yang ingin diangkat oleh Soepomo. Pertama adalah musyawarah dan keadilan sosial.

Sebagai ahli hukum, Soepomo yakni bahwa Indonesia akan memiliki tata negara dengan berasaskan musyawarah dan mufakat. Maka, poin prinsip negara berikutnya adalah persatuan, kekeluargaan serta demokrasi.

Lima pilar tersebut diajukan Soepomo untuk menggambarkan bahwa Indonesia akan menjadi sebuah negara yang bersatu dari ujung barat sampai timur. Meskipun berasal dari berbagai suku dan budaya, Indonesia akan tetap menjadi suatu negara kesatuan yang utuh.

4. Mohammad Yamin

Mohammad Yamin

Berbagai makalah menceritakan bahwa tokoh satu ini termasuk yang paling memperjuangkan kesatuan negara khususnya para pemuda. Hal itu tercermin dalam perannya memperjuangkan Sumpah Pemuda yang terjadi pada 28 Oktober 1928.

Pahlawan asal Sumatera Barat ini mulai aktif berorganisasi di Jong Sumatranen Bond. Berkat organisasi inilah, Mohammad Yamin masuk ke dalam panitia untuk mempersiapkan sumpah pemuda.

Dengan kecerdasan dan semangat nasionalis, Mohammad Yamin memiliki peran penting dalam persiapan dan memperjuangkan kemerdekaan. Ia banyak sekali membantu Soekarno maupun Bung Hatta. Ia termasuk berperan dalam merumuskan dasar negara.

Pada tanggal 29 Mei 1945, sosok yang menjadi Menteri Kehakiman pada era Soekarno ini menyampaikan pidato yang berisi gagasan soal rumusan dasar negara. Kala itu, ia memberikan dan menyampaikan lima asas sebagai dasar negara Indonesia.

Poin yang disampaikan oleh Mohammad Yamin antara lain berhubungan dengan Ketuhana. Tak hanya itu saja, ia juga menyampaikan soal kebangsaan dan kemanusiaan. Menurutnya lima poin penting ini menjadi hal yang wajib dimiliki warga Indonesia khususnya dalam tata negara.

Pernyataan dari Mohammad Yamin sendiri yang akhirnya menguatkan lima poin Pancasila yang utamanya mementingkan kepentingan rakyat. Selain itu, beliau juga percaya bahwa bangsa ini akan tumbuh dengan semangat gotong royong.

5. K.H Abdul Wachid Hasyim

K.H Abdul Wachid Hasyim

Pahlawan ini merupakan seorang Kyai yang ikut memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Kultur agama dari keluarga cukup kuat mengalir dalam diri tokoh satu ini. Tak hanya itu saja, kecerdasannya juga sudah terlihat saat ia berusia tujuh tahun.

Kecerdasan itu yang membuat sosok Wachid Hasyim aktif di berbagai organisasi khususnya politik. Hingga akhirnya ia masuk ke dalam BPUPKI dan PPKI. Sosoknya juga cukup dekat dengan tokoh penting seperti Soekarno.

Meskipun memang ia tidak menyampaikan secara langsung melalui pidato, gagasan dari Abdul Wachid Hasyim turut memperkuat aspek-aspek sebagai dasar negara. Apalagi pada bagian aspek Ketuhanan.

Sejarah Pancasila yang cukup panjang ini memang membuktikan bahwa Indonesia mengalami fase perubahan untuk menemukan dasar negara yang tetap dan bisa diterima oleh semua orang. Dasar negara itu pun masih dipegang teguh sebagai lambang negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *