Suku Dayak : Lokasi, Sejarah, Bahasa, Tradisi, Cerita Adat, dll

7 min read

suku-dayak

Suku Dayak merupakan suku yang paling mendominasi di pulau Borneo atau Kalimantan. Suku bangsa yang satu ini masih menerapkan pola kehidupan masa lampau, sehingga suku pedalaman ini sangat kental akan nuansa mistik yang mengelilingi di sekitarnya.

Selain itu, suku ini juga kaya akan adat istiadat yang menjadi ciri khas kebudayaan masyarakat setempat. Apakah Anda penasaran tentang asal dan keunikan suku yang satu ini? Mari simak penjelasan lengkapnya pada artikel di bawah ini.

Suku Dayak Berasal Dari Mana?

Suku-Dayak-Berasal-Dari-Mana

Pada dasarnya, kata ‘Dayak’ tidak ada kaitannya dengan nama bahasa suatu suku bangsa. Menurut bahasa Kalimantan, julukan ‘orang Dayak’ merujuk kepada ‘orang-orang pedalaman’ yang tinggal jauh dari perkotaan.

Sebutan ‘orang Dayak’ tidak hanya ditujukan kepada satu suku saja, tetapi merupakan panggilan untuk sejumlah suku lainnya juga seperti Dayak Tunjung, Dayak Punan, Dayak Kenyah, dan sub suku lainnya. Berdasarkan asalnya, suku Dayak Kalimantan aslinyaberasal dari daratan Cina, tepatnya daerah Yunan.

Sejarah Suku Dayak

Sejarah-Suku-Dayak

Catatan sejarah menyebutkan bahwa nenek moyang orang-orang Dayak diperkirakan adalah keluarga kerajaan Cina yang kalah pada masa perang, lalu menyelamatkan diri ke pulau Kalimantan. Suku Dayak mendiami pulau Kalimantan dan beranak-pinak di wilayah hutannya.

Peperangan tersebut menyebabkan mereka trauma, sehingga takut ketika berjumpa dengan orang dari etnis tertentu. Oleh sebab itu, suku Dayak asli pulau Kalimantan memiliki pantangan, agar tidak berjumpa dengan suku bangsa lain.

Pantangan ini dibuat karena kepercayaan mereka terhadap para leluhur, bebatuan, binatang, dan tanda alam lainnya yang dinamakan agama Kaharingan. Oleh karena itu, mereka meyakini fenomena alam sebagai pantangan yang harus dihindari.

Hal ini juga disebabkan oleh belum masuknya agama samawi seperti Islam, Kristen, Hindu, dan lainnya ke wilayah Kalimantan sebelum abad 20. Seiring dengan berjalannya waktu, keturunan orang-orang suku Dayak berasal dari pulau Kalimantan ini bersedia membuka diri untuk berinteraksi dengan etnis lain.

Ciri Khas Kebudayaan Suku Dayak

Ciri-Khas-Kebudayaan-Suku-Dayak

Seperti suku bangsa lainnya, etnis pedalaman ini juga memiliki ciri-ciri tertentu yang unik. Keunikan etnis asal Kalimantan ini  menjadi pembeda dengan suku lainnya. Ada baiknya Anda menyimak sejumlah seni budaya yang dimiliki etnis unik ini.

1. Pakaian Suku Dayak

Baju adat orang Dayak tak jarang dipakai untuk acara penyambutan tamu. Busana adat suku yang satu ini berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pakaian daerah untuk wanita Dayak bernama Ta’a yang terdiri dari:

  • Atasan bernama Sapei Inoq
  • Rok yang dinamakan Ta’a
  • Ikat kepala berbahan pandan yang memiliki nama Da’a
  • Uleng yang artinya kalung manik-manik yang menjulur hingga dada bawah

Busana tradisional untuk pria Dayak dinamakan Sapei Sadaq. Baju adat ini memiliki motif dan corak yang hampir serupa dengan busana tradisional wanita Dayak. Berikut ini adalah kelengkapan baju adat Sapei Sadaq:

  • Atasan berupa rompi
  • Abet Kaoq yang berarti sebuah cawat
  • Senjata tradisional Mandau yang diikatkan pada pinggang

Motif kain untuk pakaian daerah orang Dayak biasanya merujuk pada alam, seperti flora dan fauna. Motif-motif yang dikenakan pada pakaian bisa menjadi simbol kelas sosial tertentu. Para bangsawan biasanya mengenakan motif harimau atau enggang, sedangkan rakyat jelata menggunakan motif tumbuhan.

Pakaian adat suku ini tampak semakin unik karena tato di tubuh mereka. Tato tersebut dinamakan tutang yang bermakna suatu hal yang dibuat dengan aturan tertentu. Orang Dayak percaya bahwa banyaknya tato di tubuh pria Dayak menandakan tempat-tempat di wilayah Dayak yang telah dikunjunginya.

2. Rumah Adat Suku Dayak

Nama rumah adat orang Dayak adalah Betang yang tersebar di seluruh daerah Kalimantan, khususnya hulu sungai sebagai pusat perumahan. Betang berbentuk rumah panggung dengan ketinggian sekitar 3 hingga 5 meter dari permukaan tanah.

Jaraknya yang lumayan jauh dari permukaan tanah ini bertujuan untuk mencegah terjadinya banjir saat musim hujan. Satu betang biasanya dihuni oleh suatu komunitas dengan beberapa keluarga. Setiap keluarga diberi satu ruangan yang dipisahkan oleh sekat-sekat.

Betang menjadi gambaran kekompakan hidup orang-orang Dayak di bawah aturan adat yang harus dipatuhi. Di dalam Betang, semua keluarga bergotong-royong dalam segala hal mulai dari menjaga keamanan, makan bersama, hingga bekerja di ladang.

Rumah Betang menggambarkan sebuah kehidupan kelompok etnis yang hidup bersama dengan saling membantu tanpa membeda-bedakan.

3. Tarian Suku Dayak

Etnis yang satu ini juga sarat akan kesenian daerahnya, terutama seni tari. Orang Dayak memiliki sejumlah tarian daerah yang memiliki fungsi dan makna tertentu. Berikut ini adalah tari tradisional orang Dayak yang perlu Anda ketahui.

a. Tari Kancet Papatai

Tarian yang satu ini merupakan salah satu bentuk seni tari dengan tema peperangan. Tarian daerah ini menceritakan tentang kisah seorang pahlawan Dayak yang bertempur dengan musuh hingga ritual penobatan gelar.

Tari tradisional yang satu ini juga menyiratkan sebuah kegagahan pria Dayak Kenyah dalam melawan musuh. Tarian tradisional ini menonjolkan kelincahan dan kegesitan gerakan tubuh yang ditunjukkan dengan semangat para penari berteriak.

Tarian adat yang satu ini diiringi oleh alat musik bernama Sampe dan lagu daerah setempat yang berjudul Sak Paku. Untuk kostumnya, para penari mengenakan pakaian daerah Dayak Kenyah. Tarian adat ini juga dilengkapi dengan properti perang antara lain baju perang, perisai, dan mandau.

b. Tari Hudoq

Salah satu tarian yang paling populer di lingkungan adat suku yang satu ini adalah tari Hudoq. Tari yang satu ini biasanya digunakan untuk upacara menanam padi setiap bulan September hingga Oktober oleh orang Dayak Modang dan Dayak Bahau.

Selain itu, tarian ini dipentaskan dengan tujuan untuk mengingat jasa para leluhur yang dipercaya telah naik ke kayangan. Orang Dayak percaya bahwa saat masa penanaman padi, para roh leluhur akan datang untuk memberi bimbingan kepada keturunan mereka.

Roh leluhur yang datang untuk membimbing manusia ini dinamakan Jeliwan Tok Hudoq. Kedatangan Hudoq sangat diharapkan orang-orang Dayak karena selalu membawa kebaikan berupa berbagai macam benih dan tanaman obat

c. Tari Leleng

Tarian adat ini juga menyiratkan sebuah kisah yang tak kalah menarik. Tari Leleng mengisahkan percintaan tragis tentang seorang wanita muda yang memiliki nama Utan Along.

Inti kisah tragis dalam tarian ini yaitu Utan Along yang melarikan diri ke hutan karena dijodohkan dengan pria yang tidak dicintainya. Tarian tradisional ini dinamakan Leleng disebabkan oleh iringan lagu Leleng dalam setiap pementasannya.

4. Alat Musik Suku Dayak

Sebagai sebuah etnis yang kaya akan kebudayaan, orang Dayak tentu saja memiliki alat musik tradisional. Alat musik ini biasanya digunakan untuk mengiringi tarian adat, nyanyian lagu daerah, hingga upacara. Sejumlah alat musik khas suku yang satu ini antara lain:

a. Garantung

Alat musik ini sejenis gong yang terbuat dari bahan logam seperti kuningan, perunggu, atau besi. Cara memainkan garantung adalah dengan dipukul sesuai tempo dan ritme tertentu.

Gandang

Gandang adalah nama lain dari gendang yang sering digunakan sebagai iringan tari dan nyanyian lagu. Gandang dikenal sebagai alat musik yang paling sering dimainkan oleh orang Dayak.

b. Kalali

Kalali adalah sebuah alat musik tiup berbahan rotan yang terdiri dari buluh rotan dan batang kalali. Batang kalali dijadikan sebagai tempat untuk mengaitkan buluh rotan. Lalu, diberi 5 buah lubang untuk menghasilkan melodi yang merdu.

c. Tote

Alat musik tiup ini terdiri dari buluh kecil kering yang ujung dalamnya ditambahkan sebuah lidah. Batang Tote diberi 2 hingga 3 lubang untuk menentukan tinggi rendahnya nada.

d. Suling Balawung

Suling Balawung dibuat dari bahan bambu dengan ukuran kecil yang diberi 5 buah lubang di bawah dan 1 lubang lagi di bagian atas. Alat musik tiup yang satu ini biasanya dimainkan oleh wanita Dayak.

5. Upacara Suku Dayak

Etnis yang terkenal akan daya magisnya ini memiliki sejumlah ritual khas, salah satunya adalah upacara Tiwah. Upacara ini bertujuan sebagai pengantar tulang orang yang sudah meninggal ke sebuah Sandung. Sandung adalah rumah kecil yang sudah disiapkan untuk orang Dayak yang telah meninggal.

Upacara sakral ini biasanya didahului dengan pementasan tarian daerah, alunan alat musik gong, dan sarana hiburan lainnya. Setelah itu, baru memasuki acara inti yaitu ritual meletakkan tulang-tulang ke suatu tempat bernama Sandung.

Selain upacara Tiwah, orang Dayak juga sering mengadakan upacara penyambutan lahirnya bayi, upacara pembakaran mayat, dan upacara penguburan jenazah.

Bahasa yang Digunakan Suku Dayak

Bahasa-yang-Digunakan-Suku-Dayak

Etnis yang mendiami pulau Kalimantan ini menggunakan bahasa Austronesia untuk melakukan komunikasi sehari-hari. Bahasa daerah ini pada mulanya menginjak tanah Kalimantan lewat sisi utara pulau tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, pemuda keturunan suku ini sudah bisa berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, orang Dayak juga memiliki bahasa khusus untuk berkomunikasi dengan sub Dayak lainnya yaitu Ot Danum atau biasa dinamakan Dohoi.

Etnis yang satu ini juga memiliki bahasa kuno untuk ritual adat yaitu Sangiang atau dengan nama lain Sangen. Sub etnis Dayak Kayan yaitu Dayak Bahau dan Dayak Modang menggunakan bahasa Bahau. Etnis Dayak Ngaju dan Dayak Benuaq, untuk berkomunikasi memakai bahasa orang Ma’anyan.

Untuk Dayak Punan yang terdiri dari 24 sub suku, memakai sejumlah dialek mulai dari bahasa Punan, Busang, Lisum, hingga Bekatan. Untuk Dayak Tunjung menggunakan bahasa Tunjung dan Kutai, serta paham terhadap bahasa Benuaq.

Makanan Khas Suku Dayak

Makanan-Khas-Suku-Dayak

Selain itu, etnis yang satu ini juga memiliki makanan tertentu juga. Makanan khas Dayak terbilang unik karena terbuat dari bahan-bahan yang tidak biasanya dijadikan olahan masakan. Anda bisa menyimak sejumlah makanan lezat khas Dayak di bawah ini.

1. Karuang atau Kalumpe

Orang Dayak Maanyan menyebut makanan ini dengan Kalumpe, sedangkan Dayak Ngaju menamakannya Karuang. Makanan ini merupakan sayuran yang berupa hasil tumbukan halus daun singkong.

Tumbukan halus daun singkong tersebut diberi campuran terong pipit yang berukuran kecil. Sayuran terasa lebih nikmat karena campuran bumbu halus yang terdiri dari bawang putih, serai, bawang merah, dan lengkuas. Anda juga bisa menambahkan cabe untuk sensasi rasa pedas.

Olahan ini tak jarang dihidangkan bersama ikan asin sebagai lauk dan sambal terasi. Anda sebaiknya menyajikan makanan yang satu ketika masih panas agar terasa lebih nikmat.

2. Wadi

Bahan utama makanan ini adalah ikan, namun tak jarang orang Dayak menggunakan daging babi. Masakan ini melibatkan proses pembusukan untuk membuatnya. Proses pembusukan didahului dengan melumuri ikan atau daging babi dengan bumbu.

Bumbu untuk melumuri ikan atau daging babi ini terbilang unik karena terdiri dari hasil sangraian beras ketan putih atau biji jagung yang telah ditumbuk halus. Orang Dayak Ngaju menamakan bumbu ini dengan sebutan Kenta, sedangkan orang Dayak Maanyan menyebut bumbu unik ini Sa’mu.

3. Umbut Rotan atau Juhu Singkah

Orang Dayak yang mendiami Kalimantan Tengah tak jarang memanfaatkan umbut rotan yaitu sebuah rotan muda untuk dijadikan olahan lezat. Orang Dayak suka mengolah umbut rotan ini karena tersedia melimpah di dalam hutan, sehingga tinggal petik saja.

Orang Dayak Ngaju menyebut masakan ini dengan Juhu Singkah. Beda halnya dengan orang Dayak Maanyan, mereka menamakan makanan ini dengan Uwut Nang’e.

Cerita-cerita Tentang Suku Dayak

Cerita-cerita-Tentang-Suku-Dayak

Suku yang satu ini memiliki beragam cerita mistik yang akan membuat bulu kuduk Anda merinding. Tak hanya itu, etnis ini juga sarat akan kekuatan supranatural yang paling ditakuti masyarakat Indonesia. Berikut adalah sejumlah cerita tentang suku magis ini yang beredar di masyarakat:

1. Pasukan Hantu

Pada zaman penjajahan kolonial Belanda, orang Dayak tak ketinggalan dalam berjuang mengusirnya. Orang Dayak memiliki kelompok pejuang yang bernama Pasukan Hantu. Pasukan ini diyakini oleh orang Dayak sebagai makhluk halus bernama Panglima Burung yang melindungi masyarakat setempat.

Pendapat lain mengatakan bahwa Pasukan Hantu adalah prajurit orang Dayak yang membunuh penjajah menggunakan senjata sumpit beracun dan mandau. Sumpit ini dimainkan dengan meniupkan peluru beracun ke Belanda.

Peluru orang Dayak yang mengenai Belanda selalu berhasil mematikannya. Namun, peluru Belanda yang mengenai orang Dayak tidak akan membuatnya mati. Orang Dayak akan segera pulih dari tembakan peluru dalam beberapa hari dengan bantuan dukun.

Pasukan Hantu ini pun berhasil membuat takut penjajah Belanda karena selalu menjatuhkan korban jiwa. Hal ini menyebabkan Belanda segera angkat kaki dari wilayah orang Dayak.

2. Tradisi Ngayau

Ngayau dikenal sebagai tradisi pemenggalan kepala musuh untuk dibawa pulang setelah peperangan. Tradisi ini bertujuan sebagai pembuktian keberanian bagi laki-laki Dayak. Pria Dayak yang berhasil memenggal kepala musuh dan membawa pulang maka akan diperebutkan banyak wanita.

Pria Dayak bisa menjadikan kepala musuh sebagai persembahan untuk wanita yang akan dinikahinya. Wanita Dayak beranggapan pria yang berhasil membawakannya kepala manusia maka bisa diandalkan untuk melindunginya ketika berumah tangga.

3. Racun Paser

Etnis yang satu ini dikenal sebagai penganut kepercayaan animisme yang kental akan ritual-ritual pemujaan roh. Tak heran jika orang Dayak suka menggunakan ilmu gaib untuk menyerang musuh. Ilmu gaib yang dimaksud adalah racun paser.

Racun paser ini dikirimkan ke musuh melalui angin dan akan menyebabkan target merasakan gatal-gatal di seluruh bagian tubuh. Gatal-gatal ini akan menyebabkan kulit kering seolah-olah terhisap tulang. Parahnya, gatal-gatal ini terasa menusuk hingga ke tulang.

Penjelasan pada artikel ini dapat menjadi tambahan wawasan dan referensi bagi Anda untuk mengenal suku yang ada di Indonesia secara detail dan jelas. Suku Dayak sangat kental akan budaya, seni, hingga unsur mistik yang sangat menarik untuk diketahui.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *